Arsip Tag untuk 'kedokteran'

Kemampuan dan Kewenangan di Bidang Kedokteran

Kemarin di Suara Merdeka termuat berita tentang seorang remaja di India berusia 15 tahun yang sudah berani melakukan bedah cesar. Ayahnyalah, dr. K. Murugesan yang mengajarinya dan mengizinkannya. Kebetulan ia mengelola rumah sakit bersalin di kota Manaparai. Lantas saja hal ini mendapat kecaman dari Asosiasi Dokter India.

Eh, malah sang ayah menuduh asosiasi dokter tersebut iri dengan prestasi anaknya. Sudah begitu, ternyata tujuan si anak dilepas melakukan bedah cesar adalah agar tercatat dalam Guinnes Book of Record sebagai ahli bedah termuda??

Kalau ditanya ‘benarkah tindakan si dr. Murugesan ini?’ pastinya jawabannya salah. Ini merupakan tindakan ilegal. Selain itu juga melanggar etika. Aku heran, bagaimana sih jalan pikiran si dokter ini?

Pendidikan-pendidikan profesi, seperti kedokteran agak berbeda dengan pendidikan lainnya. Di sini seseorang menempuh jenjang pendidikan bukan hanya sekedar mencari ilmu. Siapa saja bisa belajar ilmu kedokteran sendiri, bahkan di era informasi sekarang ini bukan hal yang sulit untuk mencari referensi-referensi kedokteran dari manapun. Namun lebih dari itu, jalur pendidikan seperti ini bertujuan agar seseorang yang telah menempuhnya mendapatkan kewenangan untuk melakukan tindakan sesuai dengan profesinya.

Melakukan tindakan yang di luar kewenangannya, apalagi lagi di dunia medis yang bersinggungan dengan keselamatan orang lain merupakan pelanggaran hukum. Bahkan seorang dokter yang yang melakukan di luar kompetensinya (misalnya tindakan medis spesialistik yang bukan keahliannya) juga merupakan pelanggaran kode etik. Jadi seseorang yang dikatakan mampu belum tentu berwenang untuk melakukan tindakan medis.

Lagipula, bagaimana bisa tindakan yang benar-benar diatur oleh hukum dan etika dilakukan oleh seseorang di bawah umur yang belum sepenuhnya dapat bertanggungjawab di mata hukum?

Jembatan Keledai (Mnemonic) Kedokteran

Walau seorang mahasiswa kedokteran diharuskan untuk mengerti, bukannya menghapal mati, tetap saja bidang kedokteran tidak pernah lepas dari yang namanya menghapal. Apalagi ketika dalam waktu yang sangat singkat semua isi yang ada di kepala harus dikeluarkan. Susah deh kalau kelamaan loading…

Seringkali untuk itu mahasiswa memanfaatkan jembatan keledai, atau yang dalam bahasa Inggris disebut mnemonic, entah itu membuatnya sendiri atau menggunakan jembatan keledai sakti yang sudah menjadi legenda :d. Bentuknya macam-macam, mulai dari menganalogikan dengan sesuatu yang unik, membuat singkatan dan akronim, hingga membentuk semacam puisi.

Kesulitan untuk membuat jembatan keledai yang mudah diingat? Pakai saja jembatan keledai yang sudah jadi. Coba mampir ke MedicalMnemonics.com

MedicalMnemonics.com

Di situs tersebut tersedia berbagai jembatan keledai yang dikumpulkan/dikirim oleh mahasiswa-mahasiswa kedokteran/dokter dari seluruh dunia. Kamu juga bisa berbagi jembatan keledai karanganmu sendiri ke seluruh dunia. Ada juga versi PDA nya lo, yang praktis bisa dibawa ke mana-mana.

Checklisting patients’ pain history is SO CRAP!!

SO CRAP: Site, Onset, Character, Radiates to, Associated symptoms/ Alleviating and exacerbating factors, Periodicity

Situs Beta NEJM

NEJM sedang mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk memanjakan para pembaca setianya – para dokter, peneliti, serta mahasiswa melalui internet. Beberapa fitur-fitur baru yang sedang digodok tersebut bisa dilihat di situs beta nya: http://beta.nejm.org.

Jika menilik halaman tersebut, kita bisa melihat daftar 12 proyek yang sedang dikerjakan. Tiga proyek yang sudah ‘lulus’ uji coba yaitu:

  1. New Powerpoint-compatible slide sets
  2. Image of the week RSS feed
    Kalau sering membaca NEJM, pastinya sudah sering melihat gambar-gambar keren, unik, sampai aneh dalam praktik kedokteran. Saat ini ada RSS feednya.
  3. handheld.nejm.org
    Membaca NEJM dari PDA jadi semakin mudah (sayang gak nduwe)

Proyek lainnya yang masih dalam tahap uji coba (tapi sudah bisa dicicipi) di antaranya ialah video player selayar penuh untuk memutar ‘NEJM Videos in Clinical Medicine’, rangkuman mingguan NEJM dalam format audio, mendengarkan artikel-artikel Full-Text dalam kategori ‘Clinical Practice’, feed audio wawancara yang dilengkapi dengan PDF, fitur untuk melihat gambar-gambar ilustrasi dari artikel dalam konteks tertentu, fitur Most Popular, widget search untuk mencari artikel di NEJM langsung dari desktop, modifikasi fasilitas pencarian yang menggambarkan opini komunitas, dan seksi ‘Book Review’ yang kini terhubung langsung ke Amazon (kalau-kalau situ mau beli :D ).

This beta site is part of our commitment to physicians who “Never Stop Learning”.

Kalau mencari jurnal NEJM di perpustakaan FK, pasti yang ketemu edisi yang agak lama, berbulan-bulan sampai bertahun-tahun yang lalu. Jadi versi online jurnal ini amat membantu. Apalagi kalau sudah ada fitur sindikasinya seperti saat ini.

Kecanduan Merokok dan Lobus Insularis Cerebri – Peluang Pengembangan Terapi Baru?

Tadi siang di lobby FK Undip saya melihat majalah dinding PMM, salah satu BSO kemahasiswaan di FK Undip mulai digarap. Lumayan besar dan menarik juga, ada batang rokok raksasa digantung. Sepertinya sudah mulai keliatan lagi geliatnya, karena akhir-akhir ini BSO ini kurang tampak kegiatannya (maaf ya Mil… :) ). Jadi ingin membahas sedikit tentang masalah merokok.

Beberapa bulan lalu ada tulisan menarik tentang hubungan kebiasaan merokok dengan lobus insularis – salah satu bagian dari cerebrum. Penelitian yang dipimpin oleh Nasir H. Naqvi menunjukkan bahwa para perokok yang mengalami stroke dan mengalami kerusakan insula (lobus insularis) akan cenderung mudah untuk berhenti merokok dibandingkan dengan yang mengalami kerusakan bagian otak lain. Bahkan lebih dari sekedar berhenti, mereka juga menjadi jijik dengan rokok serta baunya. Mereka berubah dari pecandu rokok menjadi anti-perokok.

Insula merupakan bagian otak besar yang letaknya agak tersembunyi di dalam sulcus lateralis – sebuah kantung yang memisahkan lobus temporalis dan lobus parietalis. Jadi bagian ini tidak terlihat jika melihat otak dari arah lateral (samping), kecuali jika lobus temporalis disingkirkan terlebih dahulu.

Kenyataan yang dilaporkan oleh Naqvi et al tersebut menunjukkan bahwa insula merupakan bagian dari otak yang berperan dalam patogenesis kecanduan merokok. Tentunya ini bisa dijadikan target dalam terapi kecanduan rokok. Terapi operatif dengan cara merusak bagian ini tidak disarankan karena kedekatannya dengan area brocca (area bahasa). Namun terapi farmakologis yang ditargetkan ke insula suatu saat mungkin dapat dilakukan.

Mengutip satu pernyataan yang cukup menggelitik dari blog Action Potential:

Nicorette be damned! Quitting smoking is easy…if you’ve had a stroke.

Mainan Baruku

Mari kita isi blog ini dengan tulisan gak penting lagi (habis lagi gak ada yang mau ditulis). Bagi mereka yang mampir ke blogku demi mencari suatu informasi yang bermanfaat, maaf ya.. :D. Tidak usah mengklik link ke artikel lengkapnya juga gak apa-apa (tapi sebaiknya diklik aja :D). Tapi Insya Allah postingan yang berikutnya setelah ini kembali sarat akan informasi yang bermutu seperti sedia kala (hoek.. hoek.. cuh..).

Kali ini aku kepengen nunjukin mainan-mainan baruku. Sebenarnya udah lama sih pesennya, tapi baru aku ambil kemarin – karena aku dapat kelompok Panum yang mendapat pelajaran PPGD (Penanganan Pasien Gawat Darurat) untuk putaran pertamanya, yang tentunya gak pake alat-alat ini.

Alat Kesehatan & Kedokteran

Lanjutkan membaca ‘Mainan Baruku’

Ethico Medico Legal bagi Mahasiswa Kedokteran

mahasiswa sedang berdiskusiProfesi dokter merupakan profesi yang paling sering berhadapan dengan realita. Untuk itu seorang dokter dituntut memiliki karakter yang teguh, memiliki empati, pandai berkomunikasi, dan menjunjung tinggi etika.

Beberapa hari lalu dalam kuliah saya mencatat dari kuliah dosen saya bahwa kompetensi dokter yang utama ialah: (1) Humanisme, (2) Profesionalisme, (3) Managerial, (4) Etik. Sedangkan Ilmu-Ilmu Kedokteran disebutkan merupakan kompetensi pendukung, bukan kompetensi utama. Sangat menarik memang, karena selama ini saya kira justru kebalikannya.

Mencetak karakter yang memenuhi empat kompetensi utama di atas tentu lebih sulit daripada mendidik para mahasiswa dengan ilmu kedokteran yang harus dikuasainya. Sayangnya lagi, sepertinya masih ada anggapan bahwa masalah etik merupakan seni yang bisa dipelajari sendiri sehingga belum ada keseriusan dari institusi penyelenggara pendidikan kedokteran dalam memberikan materi tentang etika kepada mahasiswa.

Di kedokteran walaupun sudah diberikan mata kuliah Etika Kedokteran, namun tidak ada kurikulum yang baku untuk mata kuliah tersebut, tidak seperti mata kuliah lainnya, tukas dosen saya – yang juga merupakan Wakil Ketua Majelis Komisi Etik Kedokteran Jawa Tengah.

Lanjutkan membaca ‘Ethico Medico Legal bagi Mahasiswa Kedokteran’