<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thariqul Huda &#187; Indonesia</title>
	<atom:link href="http://hudatoriq.web.id/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hudatoriq.web.id</link>
	<description>Huda's Life, On The Row</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 15:41:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Aksara Nusantara</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 10:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[CommentMailer]]></category>
		<category><![CDATA[i18n]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut kota juga merupakan bukti bahwa, walaupun aksara ini telah hampir sepenuhnya tergantikan oleh aksara latin, sebenarnya bangsa kita masih cinta dan bangga atas kekayaan negeri kita yang satu ini. Sebagai contoh, penggunaan aksara Jawa pada papan nama jalan di berbagai penjuru kota Surakarta dan Yogyakarta. Atau penerapan yang sama pada <a href="http://nieke.keritikentang.com/?p=94">aksara Arab Melayu di kota Pekanbaru</a> <strike>belakangan ini</strike>.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2008/01/aksara_hanacaraka.jpg" alt="Aksara Jawa" /></p>
<p style="text-align: center">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2008/01/aksara_sunda.jpg" alt="Aksara Sunda" /></p>
<p style="text-align: center">&nbsp;</p>
<p>Berbicara tentang aksara tradisional, awal tahun 2008 ini diwarnai dengan dimulainya sebuah proyek sumber terbuka yang diberi nama <a href="http://code.google.com/p/aksara-nusantara/">Aksara Nusantara</a>. Proyek yang dikomando oleh <a href="http://www.mdamt.net/">Pak Mohammad DAMT</a> ini bertujuan membuat sistem yang baku untuk menciptakan, menyunting dan menampilkan dokumen elektronik berbahasa daerah di Indonesia menggunakan aksara tradisional masing-masing. Sistem penulisan dan penampilan dokumen akan mengikuti standar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a> sehingga diterima secara universal di seluruh dunia.</p>
<p><span id="more-104"></span>Proyek ini merupakan tanggapan atas telah dicantumkannya beberapa aksara tradisional Indonesia ke dalam daftar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a>, yaitu Aksara Bugis (Lontara) dan Bali, dan sedang diajukannya proposal pencantuman Aksara Sunda, Jawa, Batak dan Rejang.</p>
<p><strong>Deskripsi Proyek </strong></p>
<p>Saat ini proyek tersebut berfokus pada pembuatan fonta dan tabel SCIM (metoda input karakter standar di Linux) yang semuanya nanti akan dirilis di bawah GPL. Saat saya menulis tulisan ini, aksara Bugis telah dirampungkan oleh Pak Mohammad DAMT, sedangkan aksara Bali yang juga sudah tercantum dalam Unicode sepertinya belum ada yang mengerjakan. Untuk aksara Jawa, walaupun proposal Unicodenya belum diterima, sedang saya garap sedikit-sedikit fonta dan metoda inputnya. Dan kabar terakhir yang saya dengar di mailing list, <a href="http://chickenstrip.wordpress.com">Diki Niwatori</a> sedang menggarap aksara Sunda.</p>
<p><strong>Komputerisasi Aksara Tradisional Saat Ini</strong></p>
<p>Saat ini sebenarnya komputerisasi aksara tradisional sudah dapat dilakukan. Bentuknya yang paling sering ialah pembuatan dokumen seperti laiknya dokumen dalam alfabet, namun menggunakan fonta-fonta yang mensubstitusi karakter-karakter alfabet aslinya dengan aksara tradisional tadi. Cara ini sudah cukup memadai jika tujuan akhir dari pembuatan dokumen tersebut ialah untuk pencetakan. Untuk dokumentasi dan arsip elektronik, dokumen tersebut hanya dapat disimpan dalam format <em>rich text format</em> ataupun jenis dokumen dengan pemformatan teks lainnya seperti format dokumen milik Microsoft Office, Open Office, dan format-format teks sejenis lainnya. Dengan kata lain, informasi aksara tersebut terletak paralel dengan aksara latin. Dan jika dokumen tersebut disimpan dengan teks murni (<em>plain text</em>), maka kita harus menukar fonta yang digunakan oleh program penyunting teks kita untuk beralih dari aksara latin (yang tentunya akan nampak tidak memiliki arti) ke aksara tradisional.</p>
<p><strong>Unicode</strong></p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a> ialah standar yang memungkinkan komputer secara konsisten menampilkan dan memanipulasi teks dalam berbagai sistem penulisan di dunia. Setiap <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Glyph">glif</a> dalam aksara yang sudah dimasukkan ke dalam daftar Unicode memiliki titik kode yang unik sehingga tidak tumpang tindih dengan karakter lainnya. Dengan kata lain, jika kita menyimpan informasi aksara tradisional sesuai dengan spesifikasi Unicode ini, informasi itu terletak seri dengan aksara latin dan dapat ditampilkan secara sekaligus dengan satu fonta.</p>
<p>Lembaga yang berwenang untuk mengkaji dan mengesahkan sebuah set aksara ke dalam daftar Unicode ini ialah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode_Consortium">Unicode Consortium</a>. Unicode saat ini telah mengandung sekitar 100.000 karakter dari berbagai sistem penulisan di dunia, termasuk di antaranya dua aksara tradisional di Indonesia.</p>
<p><strong>Manfaat Pencantuman Aksara Tradisional Indonesia ke Unicode serta Proyek Ini</strong></p>
<ol>
<li>Membantu proses pendidikan<br />
Pihak guru dan sekolah dapat secara mudah menciptakan dokumen aksara tradisional ini untuk alat bantu belajar mengajar.</li>
<li>Pengenalan aksara tradisional ke media yang baru&#8211;web<br />
Dokumen yang dibuat mengikuti standar Unicode akan diterima secara universal di seluruh dunia. Web merupakan sebuah media yang cocok untuk menjadi rumah baru bagi aksara tradisional kita jika standar ini sudah ditetapkan. Untuk melihat halaman web itu dengan benar, yang diperlukan bagi pengunjung adalah sebuah fonta yang mengandung glif dalam rentang titik yang digunakan oleh aksara tradisional Indonesia. Diharapkan setelah fonta-fonta hasil proyek ini dirilis dalam GPL, fonta ini akan disertakan dalam distribusi-distribusi sistem operasi ataupun terpisah sebagai paket tambahan. Sebagai contoh penerapannya, <a href="http://bug.wikipedia.org/Halamang_Utama">Wikipedia Bahasa Bugis</a> saat ini telah menggunakan aksara lontara.</li>
<li>Melestarikan budaya negeri moyang kita <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></li>
</ol>
<p>Usaha untuk mencantumkan aksara tradisional Indonesia ke daftar Unicode telah beberapa kali dilakukan oleh warga negara lain. Bahkan berbagai riset pun telah mereka lakukan. Paling tidak mari kita teruskan usaha ini, jangan sepenuhnya bergantung pada orang luar. Toh pada akhirnya kita yang akan memakainya. Jadi, kita sendiri yang harus memastikan bahwa penerapannya akan sesuai dengan kebutuhan kita.</p>
<p>Ditunggu partisipasinya di <a href="http://code.google.com/p/aksara-nusantara/">Aksara Nusantara</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beta Testing Situs WordPress Indonesia dan WordPress 2.3</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/09/26/beta-testing-situs-wordpress-indonesia-dan-wordpress-23/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/09/26/beta-testing-situs-wordpress-indonesia-dan-wordpress-23/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2007 07:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[]]></category>
		<category><![CDATA[i15n]]></category>
		<category><![CDATA[i18n]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/09/26/beta-testing-situs-wordpress-indonesia-dan-wordpress-23/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak beberapa minggu lalu saya dan para penerjemah WordPress lain sedang melakukan beta-testing situs lokal resmi WordPress. Karena saya mengelola repositori pelokalan Bahasa Indonesia WordPress, tanggung jawab pengelolaan situs lokal WordPress Indonesia pun diserahkan kepada saya. Untuk itu saya ingin &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/09/26/beta-testing-situs-wordpress-indonesia-dan-wordpress-23/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak beberapa minggu lalu saya dan para penerjemah WordPress lain sedang melakukan beta-testing situs lokal resmi WordPress. Karena saya mengelola repositori pelokalan Bahasa Indonesia WordPress, tanggung jawab pengelolaan situs lokal WordPress Indonesia pun diserahkan kepada saya.</p>
<p>Untuk itu saya ingin mengumumkan beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Situs resmi WordPress Indonesia sudah dapat diakses di http://id.wordpress.org. Saat ini sedang dalam fase beta.</li>
<li>Forum WordPress lokal di mana kita bisa berdiskusi mengenai WordPress sudah dibuat di http://id.forums.wordpress.org. Bagi Anda yang memiliki akun forum WordPress tidak usah mendaftar lagi karena database penggunanya terintegrasi dengan forum internasional.</li>
<li>Sekarang Anda tidak perlu repot-repot melakukan injeksi berkas id_ID.mo ke dalam instalasi WordPress Anda, karena saat ini disediakan rilis lokal WordPress. Anda dapat mengunduh rilis Bahasa Indonesia dari <a href="http://id.wordpress.org">situs lokal WP Indonesia.</a></li>
<li>Ke depan direncanakan untuk membangun Codex ber Bahasa Indonesia, yang isinya merupakan terjemahan dari Codex internasional, dengan sedikit penyesuaian. Untuk sementara ini saya sudah menginstal purwarupa nya di http://id.wordpress.net/codex. Dimohon partisipasi dan kontribusi dari segenap pengguna WordPress.</li>
<li>Jika ingin turut berkontribusi, terutama menjadi relawan di penerjemahan WP, Codex dan Forum Dukungan, saya sudah membuatkan milis di wp-indonesia@googlegroups.com</li>
</ol>
<p>Ditunggu segala masukan, kritik dan partisipasinya <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Untuk rilis WordPress Bahasa Indonesia, saat ini sudah tersedia hingga versi 2.3 (rilis versi lokal ini hanya berselang sehari dengan versi internasionalnya). Mohon bantuan segenap pengguna WP sekalian untuk turut mencoba mengunduh dan menginstal, menilai dan memberi masukan jika ada kekurangan-kekurangan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/09/26/beta-testing-situs-wordpress-indonesia-dan-wordpress-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 04:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat <em>bekel </em>(salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan  Bhayangkara-sebuah pasukan kecil dengan kemampuan <em>telik sandi</em> (mata-mata) yang terasah yang bertanggungjawab menjaga keselamatan raja. Dengan kata lain pasukan ini merupakan <em>secret service</em> nya kerajaan Majapahit waktu itu.</p>
<p>Buku ini cukup bagus, dan saya sarankan untuk membacanya. Tapi maaf, saya bukan ingin mengupas ceritanya di sini, melainkan saya ingin memuji semangat penulis buku ini yang mengajak kita untuk selalu mengingat kebesaran bangsa kita sejak zaman dahulu. Agaknya semangat ini kurang dimiliki oleh sebagian warga Indonesia.</p>
<p>Saya jadi tersadar bahwa betapa langkanya media-media hiburan yang membawa pesan seperti ini. Coba saja kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Sejarah negeri mereka tidaklah lebih panjang dari sejarah negeri kita. Namun Anda pasti tidak kesulitan untuk menyebutkan judul-judul film-film heroik yang mengisahkan tokoh-tokoh besar maupun peristiwa-peristiwa besar negeri mereka. Bahkan sewaktu saya SD pun saya suka menonton film Tour of Duty-film yang mengisahkan para tentara Amerika yang diterjunkan ke perang Vietnam.</p>
<p><span id="more-71"></span>Sewaktu SD, beberapa kali diadakan pemutaran film-film perjuangan di sekolah saya. Di televisi pun, terutama di saat-saat mendekati hari kemerdekaan RI seperti sekarang ini selalu diputar film-film tentang perjuangan meraih kemerdekaan. Saat ini? Hampir tidak pernah.</p>
<p>Di era kebangkitan perfilman Indonesia seperti saat ini seharusnya film-film yang telah usang itu memiliki pengganti, film-film baru bertemakan perjuangan dengan kualitas gambar dan tata suara yang jauh lebih baik, serta kemasan yang mudah untuk diterima generasi muda saat ini. Kalaupun industri film laga di Indonesia memang belum bangkit, toh seharusnya bisa dimulai dengan film drama. Tapi saya tidak melihatnya sama sekali.</p>
<p>Sewaktu di bangku sekolah, pelajaran sejarah memang menjadi momok bagi saya. Kebanyakan murid sekolah mungkin menemukan keadaan yang sama. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah visualisasi. Kalau saja pelajaran itu bisa dikemas sedemikian rupa dalam media hiburan seperti film, komik maupun novel, dan tidak digarap secara asal-jadi, tentunya generasi muda dapat lebih mengenal pahlawan-pahlawan mereka. Kalau tak kenal maka tak sayang.</p>
<p>Pahlawan-pahlawan yang dimaksud tidak terbatas pada pejuang-pejuang kemerdekaan, tapi bisa juga lebih jauh ke belakang, di zaman kerajaan, ketika wilayah nusantara masih terbentang sampai ke semenanjung malaya, atau lebih jauh lagi. Dan alangkah baiknya kalau bumbu-bumbu cerita mistis yang terkesan murahan seperti film-film silat itu bisa dikurangi, atau dihilangkan.</p>
<p>Pemerintah sebenarnya bisa turut andil dalam hal ini, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang <em>concern</em> ke sini. Daripada memaksa anak-anak kecil untuk menghormati para pahlawan, justru rasa bangga dan cinta terhadap pahlawan nantinya akan tumbuh sendiri.</p>
<p>Semoga akan banyak penulis-penulis maupun sineas yang mengusung semangat yang sama seperti Langit Kresna Hariadi ini. Akhir kata, walaupun agak terlalu cepat, selamat hari kemerdekaan RI. Merdeka! <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Domain .web.id Habis, Ganti Domain?</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/07/07/domain-webid-habis-ganti-domain/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/07/07/domain-webid-habis-ganti-domain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jul 2007 06:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Situs Ini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[domain]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/07/07/domain-webid-habis-ganti-domain/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beralihnya kepengurusan pengelolaan domain .id dari DepKomInfo ke PANDI dan berakhirnya masa gratis penggunaan domain .web.id, akhirnya saat itu telah tiba. Kemarin aku dapat email dari PANDI bahwa domain ini masa berlakunya habis sejak 1 Juli 2007 dan tenggat &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/07/07/domain-webid-habis-ganti-domain/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beralihnya kepengurusan pengelolaan domain .id dari DepKomInfo ke <a href="http://pandi.or.id">PANDI</a> dan berakhirnya masa gratis penggunaan domain .web.id, akhirnya saat itu telah tiba. Kemarin aku dapat email dari PANDI bahwa domain ini masa berlakunya habis sejak 1 Juli 2007 dan tenggat waktu perpanjangan diberikan sampai 31 Agustus 2007.</p>
<p>Mungkinkah blog ini harus berakhir sampai di sini? Hehehe.. kayaknya nggak. Tapi masih bingung mendingan perpanjang domain ini atau daftar yang Generic Code Top Level Domain sekalian (.com, .org, .net, dsb)? Karena dulu pertimbanganku memakai Country Code Second Level Domain di .web.id semata-mata karena gratis.</p>
<p>Tetapi, penggantian nama domain implikasinya juga besar. Bisa dibilang aku harus memulai dari awal lagi, harus kasih tahu sana kasih tahu sini tentang alamat baruku, juga merubah taut-taut ke blogku di banyak tempat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/07/07/domain-webid-habis-ganti-domain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WordPress Bahasa Indonesia</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/01/22/wordpress-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/01/22/wordpress-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 06:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Situs Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[gettext]]></category>
		<category><![CDATA[i15n]]></category>
		<category><![CDATA[i18n]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa yang besar selalu mencintai serta bangga akan jatidirinya. Salah satunya ialah bangga terhadap bahasa nasional. Bagaimana dengan bangsa kita? Akhir-akhir ini mulai marak judul-judul lagu serta film dalam negeri yang menggunakan bahasa Inggris. Tidak salah sih kalau sekedar bentuk &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/01/22/wordpress-bahasa-indonesia/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsa yang besar selalu mencintai serta bangga akan jatidirinya. Salah satunya ialah bangga terhadap bahasa nasional. Bagaimana dengan bangsa kita? Akhir-akhir ini mulai marak judul-judul lagu serta film dalam negeri yang menggunakan bahasa Inggris. Tidak salah sih kalau sekedar bentuk kebebasan berekspresi. Namun yang perlu dipertanyakan ialah hal yang mendorong ekspresi tersebut. Apa mereka menganggap bahasa Indonesia itu ketinggalan jaman, kampungan, ndeso?</p>
<p>Untuk istilah teknologi informasi bahkan kebanyakan orang lebih familiar dengan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Berapa persen orang sih yang tahu padanan kata download atau upload di bahasa Indonesia? Ya, kalau masalah ini juga masih disebabkan karena minimnya pengembang aplikasi dalam negeri. Tapi saya salut dengan sebagian media-media cetak dalam bidang IT kita yang membudayakan bahasa Indonesia dengan agak &#8216;memaksa&#8217; menerjemahkan istilah-istilah seperti itu ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Ingin mengaplikasikan bahasa Indonesia ke dalam blog ini, yang berjalan di atas CMS WordPress, beberapa waktu yang lalu saya menjelajahi <a href="http://codex.wordpress.org" title="WordPress Documentation">Codex nya WordPress</a>, yang mereka sebut sebagai &#8216;the bible of WordPress&#8217; untuk mencari internationalization WordPress, alias versi bahasa asing (bahasa selain bahasa Inggris) dari aplikasi web tersebut. Saya menemukan tautan ke versi bahasa Indonesia. Tetapi alangkah sayang ternyata tautannya sudah kadaluwarsa.</p>
<p>Akhirnya saya membuat localizationnya sendiri. Cara kerja localization WordPress memakai gettext translation framework, yaitu dengan mengganti semua string bahasa Inggris dalam fungsi _e($message) dan __($message) dengan padanan katanya yang sudah tersusun dalam suatu file. Jadi setiap kali ada request halaman, selain melakukan berbagai macam fungsi guna merangkai data-data posting, komentar, dan sebagainya, WordPress juga melakukan fungsi berikutnya yaitu menerjemahkan. Berat juga ya. Untungnya daftar padanan kata tersebut dibaca dari sebuah file binary (bahasa mesin), bukan file ASCII.</p>
<p>File berekstensi .mo (Machine Object) yang saya compile ini bisa diunduh para pengguna WordPress di sini. Lihat bagian akhir posting ini.<br />
<span style="font-weight: bold">Instalasi</span>:</p>
<ul>
<li>Unggah file id.mo yang terdapat dalam file wp_id.zip ini sehingga path file tersebut menjadi <code>/wp-includes/languages/id_ID.mo</code> Secara default direktori /languages/ tersebut tidak ada. Jadi buatlah terlebih dahulu</li>
<li>Buka file &#8216;/wp-config.php&#8217; Anda. Pergilah ke baris yang bertuliskan <code>define ('WPLANG', '');</code> dan ubahlah menjadi <code>define ('WPLANG', 'id_ID');</code></li>
<li>Reload halaman Admin Anda. Jika Anda pergi ke halaman admin, maka antarmuka menu-menu di sana akan berubah menjadi bahasa Indonesia</li>
</ul>
<p><span id="more-27"></span>Mengapa halaman depan saya tidak berubah menjadi bahasa Indonesia? Itu karena theme yang Anda gunakan tidak mendukung gettext translation framework. Sederhananya pesan-pesan bahasa Inggris dalam theme tersebut tidak diletakkan dalam fungsi __($message) atau _e($message). Kalaupun sudah mendukung, Anda belum memiliki file id_ID.mo yang tepat. File id_ID.mo yang tadi saya sediakan hanya berisi tabel translasi admin serta string-string dasar seperti nama hari, bulan, tahun, dsb.</p>
<p>Anda bisa saja mengganti seluruh pesan-pesan bahasa Inggris tersebut secara manual dengan mengedit seluruh source code tema yang Anda pakai. Tapi saya sarankan Anda memakai theme yang mendukung gettext, sehingga Anda sewaktu-waktu dapat dengan mudah beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan sebaliknya. Bahkan Anda bisa membuat blog bilingual. dengan plugin <a href="http://www.fredfred.net/skriker/index.php/polyglot">polyglot</a> atau <a href="http://jamietalbot.com/wp-hacks/gengo/">gengo</a>.</p>
<p>Tema default WordPress (Kubrick) pun belum mendukung gettext. Namun Anda dapat mengunduh versi tema Kubrick yang sudah di-gettext-kan (semua pesan diletakkan dalam fungsi _e($message) dan __($message) di sini: <a href="http://www.hudatoriq.web.id/downloads/default_gettext.zip">default_gettext.zip</a>. Tema tersebut di-gettext-kan oleh maira (saya dapat dari halaman <a href="http://www.fredfred.net/skriker/index.php/polyglot">polyglot</a>) dan sudah sedikit saya modifikasi untuk kemudahan peletakan file dan saya tambahkan file id_ID.mo ke dalam direktorinya.</p>
<p>Atau Anda bisa menggunakan tema K2 (yang saya pakai). Tema ini sudah mendukung gettext. Anda dapat mengunduhnya di <a href="http://www.getk2.com" title="K2 Official Site">http://www.getk2.com</a>. Saya sudah membuat file id_ID.mo untuk tema ini dan bisa Anda unduh: <a href="http://www.hudatoriq.web.id/downloads/k2-id_ID.zip">k2-id_ID.zip</a>. Setelah diunduh dan diekstrak, letakkan file id_ID.mo di dalamnya ke direktori tema k2 Anda. Secara default berada di <code>/wp-content/themes/k2/</code></p>
<p>Versi saya mungkin masih banyak kekurangan terutama kata-kata yang sulit dicarikan padanan katanya di bahasa Indonesia. Jika ada saran serta mengajak diskusi untuk mengembangkan localisasi ini harap hubungi saya di section komentar posting ini. Untuk membuat sendiri file .mo versi Anda, coba gunakan <a href="http://www.poedit.net">PoEdit</a>. Keterangan selengkapnya bisa dibaca di <a href="http://codex.wordpress.org/Translating_WordPress">Dokumentasi WordPress</a>.</p>
<p>Sewaktu mencari informasi tentang gettext, saya sempat membaca tentang kode ISO 639 yaitu kode untuk bahasa di dunia. Bahasa Jawa juga punya kode ISO 639 lo, kodenya jw (kalau Indonesia id). Pesen buat anak-anak Loenpia, yuk bikin versi bahasa Jawa. Lumayan nih kerjaan buat Loenpia. Ayo kita ubah paradigma bahasa Jawa sebagai bahasa ndeso (gara-gara mas thukul ki&#8230;) menjadi bahasa gaul teknologi. Wikipedia bahasa Jawa aja udah ada kan.</p>
<p align="center"><strong>UNDUH FILE</strong></p>
<table class="table_post_line download" margin="1" border="0" width="100%">
<tr>
<th align="center">Versi WordPress</th>
<th align="center">Perbaruan terakhir</th>
<th align="center">Unduh</th>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.0.2</td>
<td align="center">24 Mei 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.0.2-id_ID.zip">wordpress-2.0.2-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.0.3</td>
<td align="center">24 Mei 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.0.3-id_ID.zip">wordpress-2.0.3-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.0.4</td>
<td align="center">24 Mei 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.0.4-id_ID.zip">wordpress-2.0.4-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.0.5</td>
<td align="center">2 Juni 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.0.5-id_ID.zip">wordpress-2.0.5-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.0.6 &#8211; 2.0.10</td>
<td align="center">2 Juni 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.0.6-id_ID.zip">wordpress-2.0.6-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.1 &#8211; 2.1.3</td>
<td align="center">2 Juni 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.1-id_ID.zip">wordpress-2.1-id_ID.zip</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="left">2.2</td>
<td align="center">2 Juni 2007</td>
<td align="center"><a href="http://hudatoriq.web.id/downloads/wordpress-2.2-id_ID.zip">wordpress-2.2-id_ID.zip</a></td>
</tr>
</table>
<p>Keterangan:<br />
Setiap file berekstensi .zip di atas berisi dua buah file, yaitu id_ID.mo dan id_ID.po. Hanya file id_ID.mo saja yang harus diunggah ke direktori lokalisasi WordPress di server Anda. File id_ID.po merupakan kode sumbernya yang dapat Anda gunakan jika ingin melakukan perubahan-perubahan terjemahan WordPress Anda.</p>
<p><strong>Update &#8211; 26 Jan 2007:</strong></p>
<p><strike>file id.mo yang bisa Anda unduh di atas diperuntukkan untuk <a href="http://www.wordpress.org/development/2007/01/ella-21/" title="WordPress 2.1">WordPress versi 2.1</a>. Bagi yang belum mengupgrade, upgrade dulu ya &#8230; <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></strike></p>
<p><strong>Update &#8211; 12 Mar 2007:</strong></p>
<p>Sekarang saya sertakan pula file source code translasi WordPress bahasa Indonesia. File id.po di dalam file wp_id.zip pada tautan di atas bisa Anda gunakan untuk membuat terjemahan bahasa Indonesia versi Anda sendiri. Untuk mengcompile menjadi file id.po dapat dengan menggunakan program PoEdit. Kalau Anda ingin mempublikasikan hasil terjemahan berdasarkan dari file id.po milik saya, jangan lupa untuk memberitahu saya terlebih dahulu. Kritik dan saran Anda saya tunggu agar terjemahan WordPress ini menjadi lebih sempurna.</p>
<p><strong>Update &#8211; 30 Apr 2007:</strong></p>
<p>Nama file id.mo dan id.po saya ubah menjadi id_ID.mo dan id_ID.po. Begitu pula settingan `WPLANG` dalam wp-config.php dari `id` menjadi `id_ID`.</p>
<p><strong>Update &#8211; 3 Jun 2007:</strong></p>
<p>Saya juga sudah mengerjakan versi-versi pendahulu serta versi-versi terbaru WordPress. Mulai saat ini saya sediakan terjemahan dari berbagai versi, tergantung dari versi WordPress yang digunakan. Ke depan Insya Allah akan selalu saya update jika ada rilis-rilis versi-versi berikutnya.</p>
<p><strong>Update &#8211; 25 Jul 2007:</strong></p>
<p>Sejak beberapa waktu yang lalu saya telah diberi akses &#8216;commit&#8217; ke <a href="http://svn.automattic.com/wordpress-i18n/id_ID" target="_blank">repository pelokalan resmi WordPress</a>. File id_ID.po dan id_ID.mo sudah saya letakkan di sana. Untuk ke depan, setiap kali WordPress meluncurkan versi terbarunya akan saya susulkan pelokalan Bahasa Indonesianya secepatnya di repository tersebut, juga distro Bahasa Indonesianya (versi paket penuh WordPress Bahasa Indonesia).</p>
<p>Anda bisa merambah ke direktori-direktorinya untuk mencari berkas id_ID.mo dan id_ID.po sesuai versi yang Anda butuhkan. Tapi untuk mengunduh distro Bahasa Indonesianya saya sarankan menggunakan SubVersioN client.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/01/22/wordpress-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>85</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konten Web Dalam Negeri</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2006 04:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi internet yang mengalami kerugian, terganggunya proses belajar mandiri mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan referensi di situs web luar negeri, atau paling tidak guncangan bagi para <em>blogger </em>yang tidak bisa <em>blogwalking </em>seperti biasanya <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' />. Basi banget? Eit, tunggu dulu. Saya bukannya mau bercerita mengenai kejadian yang mengakibatkan putusnya kabel data bawah laut itu. Saya hanya ingin mengajak kita semua berkaca dari peristiwa tersebut.</p>
<p>Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita pungkiri memberikan kita kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai hal. Namun dengan berbagai kemudahan yang didapat, manusia cenderung untuk mengalami keadaan yang biasa kita sebut ketergantungan. Dan ketika kemudahan itu dicabut, bingunglah mereka. Di era informasi seperti sekarang ini kita memang dituntut untuk melakukan banyak hal dengan cepat dan tidak mungkin kita lepas dari yang namanya teknologi, kecuali kalau kita rela kalah bersaing. Namun yang perlu kita camkan baik-baik, teknologi hanyalah alat. Ia buatan manusia yang tidak luput dari yang namanya salah dan lupa. Jadi sebenarnya adalah salah kalau kita terlalu menggantungkan diri pada teknologi untuk melakukan segala hal, apalagi mendewa-dewakannya.</p>
<p><span id="more-24"></span>Sekarang taruhlah memang kita harus menganggap ketergantungan terhadap teknologi itu adalah hal yang wajar di zaman sekarang ini. Dengan putusnya kabel bawah laut beberapa hari lalu praktis hubungan data dari negara Indonesia ke luar negeri putus. Beberapa provider memang masih memiliki jalur peering langsung ke beberapa negara tanpa melalui gateway yang putus tersebut. Namun tentu saja jalur tersebut  tidak mencukupi, ibarat pembuluh-pembuluh kolateral jantung harus mengkompensasi obstruksi arteri coronaria (halah..!).</p>
<p>Transaksi data di jaringan dalam negeri tidak mengalami masalah dan seharusnya tidak mengganggu komunikasi dalam negeri. Namun pada kenyataannya, tetap saja pengguna internet dalam negeri mengalami kendala berkomunikasi dengan rekan dalam negerinya. Bagaimana tidak, penyedia-penyedia konten internet yang terpercaya sebagian besar berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan penyedia jasa-jasa di internet.<br />
Ambil saja email sebagai contoh. Untuk berkirim email sesama pengguna dalam satu kota saja, pengguna internet yang kebanyakan menggunakan penyedia jasa email gratis seperti <a title="Yahoo! Mail" href="http://mail.yahoo.com/">Yahoo!</a>, <a title="Google Email" href="http://gmail.google.com/">GMail</a> atau <a title="Hotmail" href="http://www.hotmail.com/">Hotmail </a>diharuskan untuk mengakses mailservernya di luar negeri. Pengguna mailserver-mailserver lokal nampaknya tidak mengalami kendala. Namun berapa persen pengguna email yang menggunakan jasa email lokal?</p>
<p>Tambahan lagi, belum jaminan bahwa dalam keadaan putusnya <em>gateway internasional </em>kita tidak akan mengalami gangguan dalam mengakses situs web lokal (penyedia kontennya dari dalam negeri). Hal ini bisa disebabkan karena penyedia konten tersebut melakukan web hosting di server luar negeri. Kalaupun mereka melakukan hosting pada perusahaan dalam negeri, belum tentu pula servernya berada di dalam negeri karena saat ini banyak juga perusahaan-perusahaan web-hosting dalam negeri yang menyewakan <em>dedicated servernya</em> yang berlokasi di luar negeri (biasanya di Amerika Serikat).</p>
<p>Instant Messeging adalah satu lagi contoh layanan web yang banyak digunakan oleh pengguna internet. Untuk yang satu inipun penyedia jasanya masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Biasanya memang terintegrasi dengan layanan email sehingga memudahkan bagi pengguna karena tidak perlu terlalu banyak membuat account. Dalam keadaan seperti sekarang ini tentu saja sektor ini juga terkena imbasnya. Kemarin siang saja saya tidak bisa melakukan Net Meeting dengan lancar dengan teman-teman Badan Pers Nasional ISMKI. Padahal agendanya cukup penting dan mendesak, membahas rencana kegiatan Musyawarah Nasional BPN awal Februari depan. Teman-teman kedokteran setanah air memang terbiasa untuk menggunakan <em>instant messeging</em> untuk mengadakan rapat-rapat serta diskusi antar institusi untuk mengantisipasi masalah perbedaan tempat.</p>
<p>Tadi saya sempat menyinggung masalah ketergantungan pada teknologi. Dengan melihat fenomena yang saya sampaikan tadi, bisa dibilang kalau kita, masyarakat Indoneisa tidak hanya mengalami ketergantungan pada teknologi. Kita bahkan bisa disebut ketergantungan pada orang yang menciptakan teknologi itu (maksud saya perusahaan-perusahaan penyedia konten web dari luar negeri tadi). Kalau dipikir-pikir bukankah ini memalukan? Selama ini sepertinya biasa-biasa saja, namun dengan kejadian kemarin nampaknya memang kita harus introspeksi lagi.</p>
<p>Di era <em>web 2.0</em> yang sering digembor-gemborkan ini, pengguna internet pun memiliki kesempatan luas menyumbangkan ide serta informasi dan menorehkan tintanya di lautan maya ini. <em>Wiki </em>serta <em>blog </em>menjadi tren di mana-mana. Saat ini <em>googling </em>dengan keyword berbahasa Indonesia menghasilkan output yang lebih besar ketimbang beberapa tahun silam. Namun lagi-lagi <em>blog-blog instan</em> (istilah saya sendiri untuk <em>blog </em>yang dapat dibuat hanya dengan registrasi dan langsung menulis) tersebut biasanya berasal dari luar negeri, walaupun penulis maupun kontributornya orang Indonesia. Saya jamin tidak semua orang bisa menyebutkan penyedia <em>hosting blog </em>instan yang berasal dari Indonesia.</p>
<p>Lantas di sini siapa yang bisa disalahkan? Pelaku bisnis web dalam negerikah? penggunakah? Atau pemerintah? Pengguna tentunya menginginkan layanan terbaik yang bisa ia dapatkan, tidak peduli bahwa layanan itu didapatnya dari luar negeri maupun dalam negeri karena di dunia maya itu tidak menjadi masalah (kalau tidak ada kejadian seperti kemarin). Nyatanya memang kualitas layanan serta konten web domestik kita kalah dibandingkan dengan milik asing.</p>
<p>Apakah pemain-pemain di bidang IT kita memang tidak mampu untuk membuat produk serta layanan dengan kualitas yang sebanding? Menurut saya sih tidak juga. Banyak programmer serta developer web kita yang cukup handal. Yang jadi masalah ialah kurangnya apresiasi dan penghargaan terhadap karya cipta dan kekayaan intelektual di negeri ini. Untuk apa mereka menghabiskan waktu mereka berkutat dengan kode-kode kalau mereka tidak mendapatkan reward yang pantas? Kalau kita terus mengasosiasikan dan mengait-ngaitkan sebab permasalahan ini biasanya akan menjadi sebuah lingkaran setan. Ujung-ujungnya pemerintah yang disalahkan karena tidak bisa menciptakan iklim bisnis internet yang menjanjikan di Indonesia.</p>
<p>Geliat bisnis internet di Indonesia sebenarnya sudah mulai tampak. Hanya saja porsinya masih sedikit. Kapan ya kita bisa mengandalkan 100% konten serta layanan-layanan web dalam negeri mulai dari email, informasi, referensi, sampai instant messeging? Tantangan buat kita semua baik developer maupun pengguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

