<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thariqul Huda &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://hudatoriq.web.id/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hudatoriq.web.id</link>
	<description>Huda's Life, On The Row</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jan 2009 10:15:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kamus Kedokteran Dorland di Internet</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/11/29/kamus-kedokteran-dorland-di-internet/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/11/29/kamus-kedokteran-dorland-di-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 15:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips & Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/11/29/kamus-kedokteran-dorland-di-internet/</guid>
		<description><![CDATA[Buku apa yang paling tebal sepengetahuan kamu? Kalau aku ditanya seperti itu aku akan menjawab Dorland. Entahlah, ada gak ya yang lebih tebal lagi? Semoga tidak (for people&#8217;s sake). Menurutku, mungkin banyak juga anak kedokteran yang juga menjawab jawaban yang sama jika ditanya. Walaupun tebal tapi buku ini agaknya wajib untuk anak kedokteran. Buku ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buku apa yang paling tebal sepengetahuan kamu? Kalau aku ditanya seperti itu aku akan menjawab Dorland. Entahlah, ada gak ya yang lebih tebal lagi? Semoga tidak (<em>for people&#8217;s sake</em>). Menurutku, mungkin banyak juga anak kedokteran yang juga menjawab jawaban yang sama jika ditanya. Walaupun tebal tapi buku ini agaknya wajib untuk anak kedokteran.</p>
<p>Buku ini disarankan hanya untuk disimpan di rumah sebagai referensi, tidak untuk dibawa-bawa karena berat. Kecuali kamu bawa di dalam mobil. Kalau tidak pernah dibaca pun tidak akan enak buat bantal tidur karena saking tebalnya. Lebih cocok untuk mengganjal pintu. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Versi kamus sakunya juga ada. Tapi aku belum pernah lihat baju atau celana memiliki saku cukup besar sehingga muat untuk disisipkan buku saku itu ke dalamnya.</p>
<p>Lalu, bagaimana jika suatu waktu, di suatu tempat kamu berhasrat membuka-buka kamus ini sedangkan buku &#8216;berbobot&#8217; ini terpaksa kamu tinggalkan di rumah?</p>
<p><span id="more-88"></span>Lihat versi terhubungnya saja<em> </em>(terhubung = <em>online</em>). Versi terhubungnya bisa dijumpai di <a href="http://dorlands.com/wsearch.jsp">dorlands.com</a> Namun sayang, untuk melihatnya diperlukan registrasi dan memasukkan nomor PIN yang ada di stiker di balik sampul bukunya. Kalau kita beli versi terjemahan Bahasa Indonesia terbitan EGC, kita tidak mendapatkan nomor PIN tersebut.</p>
<p>Ada alternatif sumber lain, yaitu di <a href="http://www.mercksource.com">mercksource.com</a>. Taut langsung ke bagian kamus Dorland cukup panjang (<a href="http://www.mercksource.com/pp/us/cns/cns_hl_dorlands.jspzQzpgzEzzSzppdocszSzuszSzcommonzSzdorlandszSzdorlandzSzdmd-a-b-000zPzhtm">bisa kamu klik langsung dari sini</a>). Untuk memudahkan, ingat saja alamat <a href="http://mercksource.com">mercksource.com</a>, lalu klik tab &#8216;<em>Resource Library</em>&#8216;, lalu di bawah tajuk &#8216;<em>Medical References</em>&#8216;, klik taut &#8216;<em>Medical Dictionary</em>&#8216; di sini kamu bisa merambah istilah-istilah kedokteran.</p>
<p>Antarmukanya cukup mudah dipahami. Tinggal pilih huruf inisial kata tersebut lalu pilih rentang kata yang kira-kira mencakup istilah yang ingin kita cari. Misalnya kita ingin mencari istilah <em>neurofibroma</em>, berarti kita klik huruf M-N, lalu masuk ke bagian &#8216;<em>net &#8211; neurofilament</em>&#8216; Tapi sepertinya versi cetaknya lebih lengkap ya. Biasanya di Dorland, setiap kata juga dijelaskan kata-kata latin yang membentuknya, beserta arti harfiah dari kata latin tersebut, baru dijelaskan arti istilah dalam konteks medis. Di sini sepertinya tidak (CMIIW).</p>
<p class="quote">Use the same medical dictionary that healthcare professionals have relied on for years. You&#8217;ll find advanced definitions for over 115,000 medical terms.</p>
<p>Selamat mencoba.</p>
<p>Yang mau protes karena gak ada screenshot, mohon ditunda dulu. Screenshotnya saya susulkan besok <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' />. (tiap posting pasti buru-buru)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/11/29/kamus-kedokteran-dorland-di-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 04:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat bekel (salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan Bhayangkara-sebuah pasukan kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat <em>bekel </em>(salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan  Bhayangkara-sebuah pasukan kecil dengan kemampuan <em>telik sandi</em> (mata-mata) yang terasah yang bertanggungjawab menjaga keselamatan raja. Dengan kata lain pasukan ini merupakan <em>secret service</em> nya kerajaan Majapahit waktu itu.</p>
<p>Buku ini cukup bagus, dan saya sarankan untuk membacanya. Tapi maaf, saya bukan ingin mengupas ceritanya di sini, melainkan saya ingin memuji semangat penulis buku ini yang mengajak kita untuk selalu mengingat kebesaran bangsa kita sejak zaman dahulu. Agaknya semangat ini kurang dimiliki oleh sebagian warga Indonesia.</p>
<p>Saya jadi tersadar bahwa betapa langkanya media-media hiburan yang membawa pesan seperti ini. Coba saja kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Sejarah negeri mereka tidaklah lebih panjang dari sejarah negeri kita. Namun Anda pasti tidak kesulitan untuk menyebutkan judul-judul film-film heroik yang mengisahkan tokoh-tokoh besar maupun peristiwa-peristiwa besar negeri mereka. Bahkan sewaktu saya SD pun saya suka menonton film Tour of Duty-film yang mengisahkan para tentara Amerika yang diterjunkan ke perang Vietnam.</p>
<p><span id="more-71"></span>Sewaktu SD, beberapa kali diadakan pemutaran film-film perjuangan di sekolah saya. Di televisi pun, terutama di saat-saat mendekati hari kemerdekaan RI seperti sekarang ini selalu diputar film-film tentang perjuangan meraih kemerdekaan. Saat ini? Hampir tidak pernah.</p>
<p>Di era kebangkitan perfilman Indonesia seperti saat ini seharusnya film-film yang telah usang itu memiliki pengganti, film-film baru bertemakan perjuangan dengan kualitas gambar dan tata suara yang jauh lebih baik, serta kemasan yang mudah untuk diterima generasi muda saat ini. Kalaupun industri film laga di Indonesia memang belum bangkit, toh seharusnya bisa dimulai dengan film drama. Tapi saya tidak melihatnya sama sekali.</p>
<p>Sewaktu di bangku sekolah, pelajaran sejarah memang menjadi momok bagi saya. Kebanyakan murid sekolah mungkin menemukan keadaan yang sama. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah visualisasi. Kalau saja pelajaran itu bisa dikemas sedemikian rupa dalam media hiburan seperti film, komik maupun novel, dan tidak digarap secara asal-jadi, tentunya generasi muda dapat lebih mengenal pahlawan-pahlawan mereka. Kalau tak kenal maka tak sayang.</p>
<p>Pahlawan-pahlawan yang dimaksud tidak terbatas pada pejuang-pejuang kemerdekaan, tapi bisa juga lebih jauh ke belakang, di zaman kerajaan, ketika wilayah nusantara masih terbentang sampai ke semenanjung malaya, atau lebih jauh lagi. Dan alangkah baiknya kalau bumbu-bumbu cerita mistis yang terkesan murahan seperti film-film silat itu bisa dikurangi, atau dihilangkan.</p>
<p>Pemerintah sebenarnya bisa turut andil dalam hal ini, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang <em>concern</em> ke sini. Daripada memaksa anak-anak kecil untuk menghormati para pahlawan, justru rasa bangga dan cinta terhadap pahlawan nantinya akan tumbuh sendiri.</p>
<p>Semoga akan banyak penulis-penulis maupun sineas yang mengusung semangat yang sama seperti Langit Kresna Hariadi ini. Akhir kata, walaupun agak terlalu cepat, selamat hari kemerdekaan RI. Merdeka! <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Harsh Cry of the Heron</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/06/01/the-harsh-cry-of-the-heron/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/06/01/the-harsh-cry-of-the-heron/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2007 16:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[otori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu aku baru baca novel ini, The Harsh Cry of the Heron yang artinya Jeritan Pilu Sang Bangau-kelanjutan dari seri &#8220;Tales of The Otori&#8221; yang sebelumnya merupakan sebuah trilogi. Walaupun kabar tentang buku ini sudah aku dengar bahkan sebelum buku ini dirilis, dan versi Bahasa Indonesianya pun sudah keluar sejak dulu sekali, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://athena.divshare.com/s03/files/2007/06/01/804107/3381.jpg" style="margin: 0px 10px 10px 0px" align="left" border="0" />Beberapa hari yang lalu aku baru baca novel ini, The Harsh Cry of the Heron yang artinya Jeritan Pilu Sang Bangau-kelanjutan dari seri &#8220;Tales of The Otori&#8221; yang sebelumnya merupakan sebuah trilogi. Walaupun kabar tentang buku ini sudah aku dengar bahkan sebelum buku ini dirilis, dan versi Bahasa Indonesianya pun sudah keluar sejak dulu sekali, tapi baru kemarin ini dapat pinjeman dari temenku dan sempat membaca <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' />.</p>
<p>Di sini sekali lagi Lian Hearn membuktikan kepiawaiannya memadukan kisah cinta, konflik kekuasaan, serta peperangan yang diberi latar kebudayaan Jepang di zaman feodal. Lewat buku sebelumnya, Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of the Moon, ia telah mengantarkan Otori Takeo, tokoh utama dalam seri ini untuk mempersatukan Tiga Negara. Di buku ini, kisah dimulai pada enam belas tahun setelah keberhasilannya tersebut.</p>
<p>Dikisahkan bahwa Otori Takeo beserta isterinya, Kaede, telah membawa Tiga Negara menuju kedamaian dan kesejahteraan. Mereka dikaruniai tiga orang puteri, di mana dua yang terakhir merupakan kembar. Sebagai bangsawan, tentu saja ketiadaan seorang putera di tengah-tengah mereka menimbulkan kecemasan dalam diri Kaede. Namun tidak demikian dengan Takeo, karena sewaktu ia berusaha merebut Tiga Negara ia mendapat ramalan yang menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membunuhnya, kecuali puteranya sendiri-ramalan yang bahkan isterinya sendiripun tidak tahu.</p>
<p>Di tengah-tengah pemerintahannya yang damai, ia menemukan tanda-tanda ketidaksetiaan dari adik iparnya, Arai Zenko yang masih menaruh dendam pada Takeo karena ayahnya terbunuh dalam usaha Takeo merebut kota Hagi. Lebih buruknya lagi, Arai Zenko ternyata diam-diam mencari dukungan dari kaisar untuk diakui sebagai pewaris resmi Tiga Negara.</p>
<p><span id="more-62"></span>Di sisi lain, perseteruannya dengan keluarga Kikuta-salah satu keluarga dalam suku Tribe yang dikaruniai kekuatan-kekuatan istimewa bagai sihir, di mana Takeo merupakan salah satu keturunannya-menambah daftar masalah yang dapat mengancam kedamaian Tiga Negara. Bahkan penyerangan beberapa orang Kikuta pada perayaan tahun baru menjadi konflik pembuka di buku ini.</p>
<p>Di buku sebelumnya juga diceritakan bahwa Takeo memiliki putera hasil hubungan gelapnya dengan Yuki yang juga anggota Tribe. Setelah Ibunya dibunuh, anak ini oleh Akio, ketua Kikuta, diklaim sebagai puteranya dan diberi nama Hisao. Anak ini dimanfaatkan oleh Akio untuk merencanakan pembunuhan terhadap Takeo, ayah kandungnya sendiri yang bahkan tidak diketahui oleh Hisao.</p>
<p>Masalah-masalah ini yang kemudian berkembang menjadi beberapa kisah pertarungan, pembunuhan sampai perang dengan pasukan jenderal kaisar, perang terbesar yang pernah dilalui Takeo.</p>
<p>Sejak buku pertamanya, seri novel ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Sang penulis agaknya benar-benar dengan seksama memasukkan kentalnya unsur-unsur kebudayaan untuk menghiasi jalan cerita. Misalnya, perbedaan status dan perbedaan gender berkali-kali menjadi titik tolak beragam masalah yang mewarnai konflik-konflik dalam cerita ini. Di samping itu paradigma masyarakat serta kaum bangsawan yang saat ini sudah tidak diterima lagi dengan gamblangnya dilukiskan sebagai sesuatu hal yang wajar di sini.</p>
<p>Cinta, kesetiaan, serta pengkhianatan berkali-kali memainkan emosi pembaca. Cara menghadirkan intrik-intrik di sepanjang cerita benar-benar membuat para pembaca merasakan suasana hati sang tokoh utama. Ini juga yang aku suka dari novel ini.</p>
<p>Unsur-unsur supranatural juga diwarisi dari buku-buku sebelumnya, terutama tentang kekuatan rahasia Tribe. Namun bagiku, sepertinya di buku keempat ini terlalu berlebihan dibanding buku-buku sebelumnya. Namun tidak mengurangi keasyikan menikmati jalan cerita.</p>
<p>Satu lagi kekurangan buku ini menurutku ialah ending yang terkesan terlalu terburu-buru. Irama cerita di akhir buku menjadi cepat dan tiba-tiba selesai. Di buku sebelumnya juga seperti ini, di mana tiba-tiba Takeo dikhianati oleh Arai kemudian Arai mati begitu saja akibat senjata api. Di sini akhir kisah Takeo diceritakan dalam surat Makoto yang ditujukan untuk Kaede. Mungkin karena akhirnya sebagian sudah bisa ditebak berdasarkan ramalan di buku sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/06/01/the-harsh-cry-of-the-heron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

