<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thariqul Huda &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://hudatoriq.web.id/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hudatoriq.web.id</link>
	<description>Huda's Life, On The Row</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 15:41:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Medicine 2.0</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 15:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[medicine 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/</guid>
		<description><![CDATA[Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya. Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya.</p>
<p>Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak ada batas tegas kapan web ber-revolusi menjadi versi 2.0. Sebagian orang yang pragmatis pun beranggapan ini cuma jargon untuk kepentingan komersiil belaka.</p>
<p>Dalam segi pengertianpun, berbagai sumber menyebutnya dengan cara berbeda. Namun yang dapat tangkap dan simpulkan, di web 2.0 terdapat perbedaan dalam hal:</p>
<ol>
<li>Konten web tidak lagi didominasi oleh <em>provider-provider</em> besar yang bergerak di bidang informasi, melainkan bergeser ke arah pengguna, dengan menjamurnya blog, <em>social networking</em>, <em>wiki</em>, video, <em>podcasting</em> dan layanan-layanan lain yang memperbolehkan pengguna mewarnai jagad maya ini</li>
<li>Lebih dinamis. Semua informasi di web selalu bergulir. Jika suatu situs statis, maka ia akan tenggelam di tengah arus informasi situs-situs lainnya</li>
<li>Teknologi-teknologi baru seperti AJAX, sindikasi, dsb</li>
</ol>
<p>Karena sudah begitu berbedanya web zaman dulu dengan zaman sekarang, maka dikatakan web telah berganti generasi.</p>
<p><strong>Apa hubungannya web 2.0 dengan medicine 2.0?</strong></p>
<p><span id="more-93"></span>Yak, benar sekali tebakan Anda. Secara kasar, <em>Medicine 2.0</em> ini merupakan perkawinan silang antara bidang kedokteran dengan web 2.0. Selain <em>medicine 2.0</em>, terdapat juga istilah <em>health 2.0</em>. Jika <em>health 2.0</em> menitikberatkan kegunaannya kepada konsumen (pengguna jasa kesehatan), <em>medicine 2.0</em> berbicara tentang bagaimana para penyedia jasa kesehatan, utamanya para praktisi medis, mencari informasi tentang kedokteran dan berbagi informasi tersebut kepada sesama (teman sejawat) menggunakan web 2.0 sebagai <em>platform</em>nya.</p>
<p><strong>Dunia Kedokteran Latah?</strong></p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, munculnya istilah <em>health 2.0</em> dan <em>medicine 2.0</em> tak terlepas dari euphoria era web 2.0. Bagaimanapun kita melihatnya, terasa <em>kegatelan</em> mereka&#8211;para &#8216;pioneer&#8217; istilah ini untuk mengadaptasikan istilah &#8216;versi 2.0&#8242; yang &#8216;terdengar keren&#8217; ini ke bidang lain. Sejauh penelusuran saya, sepertinya istilah medicine 2.0 pertama kali digunakan <a href="http://nature.com">Nature</a>. Setelah itu secara sporadis mulai digunakan di sana-sini, terutama oleh para dokter/mahasiswa/praktisi IT yang sering ngeblog. Dari sekian banyak pihak yang memopulerkan istilah <em>medicine 2.0 </em>ini, bisa dibilang <a href="http://scienceroll.com">Bertalan Mesko</a>-lah&#8211;seorang mahasiswa kedokteran tingkat lima di Herbeden University, Hungaria&#8211;yang paling berperan besar. Ia bahkan membuat <a href="http://medicine20.wordpress.com/">blog carnival bertemakan <em>medicine 2.0</em></a> dan <a href="http://scienceroll.com/medicine-20/">sebuah halaman khusus dalam blognya</a> didedikasikan untuk merangkum semua hal tentang medicine 2.0.</p>
<p>Kalau bicara tentang &#8216;kelatahan&#8217; ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di bidang kedokteran/kesehatan. Sewaktu nongkrong dan ngobrol dengan mas <a href="http://budiputra.com">Budi Putra</a> di cafe Watoo malam minggu kemarin, saya pun baru tahu kalau ternyata di bidang lain juga terjadi tren pengadaptasian istilah ala 2.0 (baca: two point o) laiknya <em>medicine 2.0</em>. Salah satunya ialah <em>democracy 2.0</em>. Bayangkan suara-suara dan aspirasi rakyat semua disalurkan melalui dunia maya dan berproliferasi secara cepat berkat <em>web.20</em>.</p>
<p>Kalau dilihat sekilas, tren istilah 2.0 ini sepertinya agak salah kaprah ya? Namun menurut saya, tidak apa-apa. Apapun istilahnya, jelas terlihat bahwa generasi baru web saat ini menimbulkan sebuah tantangan bagi profesi kedokteran untuk turut mengambil manfaat darinya.</p>
<p><strong>CONTOH PENERAPAN MEDICINE 2.0</strong></p>
<p><strong>Forum, Social Networking</strong></p>
<p>Forum yang anggotanya terdiri dari para dokter dan mahasiswa kedokteran di Indonesia sebenarnya sudah ada di <a href="http://dokter.or.id">http://dokter.or.id</a>. Selain itu ada juga milis-milis kedokteran yang trafficnya lumayan ramai. Di tingkat internasional terdapat social networking untuk komunitas dokter, satu yang paling terkenal ialah <a href="http://www.socialmd.com/">SocialMD</a>.</p>
<p><strong>Wiki Kedokteran</strong></p>
<p>Maaf kalau saya salah, tapi berdasarkan penelusuran saya, di Indonesia belum ada wiki khusus (selain WikiPedia) yang berisi materi-materi kedokteran yang disusun dari oleh dan untuk dokter. Namun di tingkat internasional ada beberapa. Lihat <a href="http://scienceroll.com/2007/03/27/medical-wikis-the-future-of-medicine/">senarai yang dibuat oleh Bertalan di blognya</a>.</p>
<p><strong>Medical Blogosphere/Blogosfer Kedokteran</strong></p>
<p>Blog menjadi fenomena saat ini. Di sini tempat yang paling leluasa bagi seseorang untuk membagikan informasi tentang sesuatu. Dengan mempunyai sebuah media di tengah-tengah blogosphere, seseorang dapat dengan mudah menyiarkan sesuatu kepada khalayak ramai hanya dengan menekan tombol &#8216;publish&#8217;.</p>
<p>Jika sejumlah dokter memiliki blog yang saling terhubung (melalui suatu taut fisik, ataupun melalui agregasi sindikasi), hubungan antar blog dokter tersebut seolah-olah menjadi <em>dunia</em> tersendiri, yang biasa disebut <em>medical blogosphere</em>.</p>
<p>Banyak yang bisa dilakukan dengan blog, misalnya:</p>
<ol>
<li>Memublikasikan artikel-artikel ilmiah yang ditulis sendiri. <a href="http://www.sciencebase.com/science-blog/fourteen-dos-and-donts-for-medical-bloggers.html">Artikel menarik berikut</a> memberi saran bagi para <em>medical bloggers</em> berkaitan dengan ini.</li>
<li>Menulis<em> case record</em> pribadi, dan membahas kasus-kasus yang unik yang pernah dijumpai. Memang untuk melakukan ini <a href="http://casesblog.blogspot.com/2005/07/case-reports-and-hipaa-rules.html">perlu berhati-hati mengenai rahasia profesi</a>.</li>
<li>Mengulas <em>event-event</em> kedokteran</li>
<li>Membahas fenomena yang terjadi dalam lingkup birokrasi kesehatan? *lirik <a href="http://cakmoki86.wordpress.com">cak moki</a>*</li>
<li>Penerapan <em>vlogging</em>, <em>photologging</em>, atau <em>podcasting</em> juga bisa diaplikasikan untuk menyajikan data-data pendukung, misal: hasil pemeriksaan radiologi, rekaman suara jantung, foto lesi, foto Patologi Anatomi, dsb.</li>
</ol>
<p>Fitur komentar dalam blog sangat berguna untuk menciptakan suatu diskusi tentang tulisan yang dibuat. Diskusi di sini tidak hanya terbatas dilakukan oleh konsumen kesehatan, namun juga bisa dilakukan oleh praktisi medis lain (teman sejawat).</p>
<p><strong>Publikasi Ilmiah yang Digerakkan Web 2.0</strong></p>
<p class="quote"><em>Internet itu bagaikan sebuah keranjang sampah raksasa. Semua orang bisa saja dengan mudah mengisinya</em>.</p>
<p>Saya masih ingat kalimat yang dilontarkan oleh guru saya, seorang profesor di Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Undip. Memang, tidak bisa dipungkiri kalimat itu ada benarnya juga. Pentingnya keakuratan informasi dalam dunia kedokteran membuat para dokter harus berhati-hati dalam menentukan sumber informasi. Sebagus apapun artikel Wikipedia yang kita temukan tidak dapat menjadi landasan kuat dalam artikel ilmiah, apalagi untuk dijadikan alasan pengambilan keputusan medis.</p>
<p>Namun kini sudah bermunculan situs-situs <em>peer-reviewed </em>journal. Salah satunya ialah <a href="http://www.openmedicine.ca/">OpenMedicine</a>. Artikel-artikel kedokteran di sini ditulis oleh para dokter dan <em>direview</em> oleh para sejawat.</p>
<p>Memang, bukan semua yang ada di atas merupakan hal baru, namun sepertinya semangat para dokter belum begitu terasa. Munculnya jargon-jargon seperti <em>medicine 2.0</em> merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan semangat tersebut. Saatnya para dokter juga bangkit dan memanfaatkan secara maksimal potensi kekuatan <em>web 2.0</em> ini.</p>
<p><strong>Tantangan untuk Para Dokter</strong></p>
<ol>
<li>Dokter tidak hanya lagi dituntut untuk dapat menggunakan dunia maya dalam mencari informasi, namun juga harus menjadi agen penyebar informasi. Kemampuan dan minat untuk menulis tentunya sangat dibutuhkan, agar semakin banyak materi-materi kedokteran berkualitas yang dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya.</li>
<li>Dokter harus lebih dapat menerima dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Dalam mencari informasi, para dokter harus membiasakan diri menggunakan <em>feed aggregator</em>, untuk memantau terus sindikasi dari situs-situs jurnal ataupun tulisan-tulisan sejawatnya. Dalam menyiarkan informasi, tentunya para dokter juga harus familiar dengan perkakas-perkakas pendukungnya, misalnya cara menerbitkan tulisan di blog, sintaks-sintaks wiki, bagaimana cara <em>podcasting, vlogging</em>, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p><strong>Masalah yang saat ini dihadapi</strong></p>
<ol>
<li>Kesibukan</li>
<li>Keengganan</li>
</ol>
<p>Para dokter tentunya kaum yang terpelajar. Jadi sebenarnya masalahnya cuma dua itu saja <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' />.</p>
<p>Untuk mengerti lebih jauh mengenai <em>medicine 2.0</em>, saya sarankan memulai dari halaman yang dibuat oleh Bertalan yang saya sampaikan di atas. dr. <a href="http://daniweblog.blogspot.com">Dani Iswara</a> juga punya <a href="http://daniweblog.blogspot.com/2007/12/mengingat-medicine-20.html">sekumpulan daftar bacaan</a> yang perlu dibaca.</p>
<p class="quote">Banyak yang mengakui bahwa arus informasi kedokteran saat ini sangat deras, namun sebenarnya tidak banyak yang menyadari betapa lebih derasnya jika keran web 2.0 ini benar-benar dibuka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 04:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul &#8220;Gajah Mada&#8221; karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat <em>bekel </em>(salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan  Bhayangkara-sebuah pasukan kecil dengan kemampuan <em>telik sandi</em> (mata-mata) yang terasah yang bertanggungjawab menjaga keselamatan raja. Dengan kata lain pasukan ini merupakan <em>secret service</em> nya kerajaan Majapahit waktu itu.</p>
<p>Buku ini cukup bagus, dan saya sarankan untuk membacanya. Tapi maaf, saya bukan ingin mengupas ceritanya di sini, melainkan saya ingin memuji semangat penulis buku ini yang mengajak kita untuk selalu mengingat kebesaran bangsa kita sejak zaman dahulu. Agaknya semangat ini kurang dimiliki oleh sebagian warga Indonesia.</p>
<p>Saya jadi tersadar bahwa betapa langkanya media-media hiburan yang membawa pesan seperti ini. Coba saja kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Sejarah negeri mereka tidaklah lebih panjang dari sejarah negeri kita. Namun Anda pasti tidak kesulitan untuk menyebutkan judul-judul film-film heroik yang mengisahkan tokoh-tokoh besar maupun peristiwa-peristiwa besar negeri mereka. Bahkan sewaktu saya SD pun saya suka menonton film Tour of Duty-film yang mengisahkan para tentara Amerika yang diterjunkan ke perang Vietnam.</p>
<p><span id="more-71"></span>Sewaktu SD, beberapa kali diadakan pemutaran film-film perjuangan di sekolah saya. Di televisi pun, terutama di saat-saat mendekati hari kemerdekaan RI seperti sekarang ini selalu diputar film-film tentang perjuangan meraih kemerdekaan. Saat ini? Hampir tidak pernah.</p>
<p>Di era kebangkitan perfilman Indonesia seperti saat ini seharusnya film-film yang telah usang itu memiliki pengganti, film-film baru bertemakan perjuangan dengan kualitas gambar dan tata suara yang jauh lebih baik, serta kemasan yang mudah untuk diterima generasi muda saat ini. Kalaupun industri film laga di Indonesia memang belum bangkit, toh seharusnya bisa dimulai dengan film drama. Tapi saya tidak melihatnya sama sekali.</p>
<p>Sewaktu di bangku sekolah, pelajaran sejarah memang menjadi momok bagi saya. Kebanyakan murid sekolah mungkin menemukan keadaan yang sama. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah visualisasi. Kalau saja pelajaran itu bisa dikemas sedemikian rupa dalam media hiburan seperti film, komik maupun novel, dan tidak digarap secara asal-jadi, tentunya generasi muda dapat lebih mengenal pahlawan-pahlawan mereka. Kalau tak kenal maka tak sayang.</p>
<p>Pahlawan-pahlawan yang dimaksud tidak terbatas pada pejuang-pejuang kemerdekaan, tapi bisa juga lebih jauh ke belakang, di zaman kerajaan, ketika wilayah nusantara masih terbentang sampai ke semenanjung malaya, atau lebih jauh lagi. Dan alangkah baiknya kalau bumbu-bumbu cerita mistis yang terkesan murahan seperti film-film silat itu bisa dikurangi, atau dihilangkan.</p>
<p>Pemerintah sebenarnya bisa turut andil dalam hal ini, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang <em>concern</em> ke sini. Daripada memaksa anak-anak kecil untuk menghormati para pahlawan, justru rasa bangga dan cinta terhadap pahlawan nantinya akan tumbuh sendiri.</p>
<p>Semoga akan banyak penulis-penulis maupun sineas yang mengusung semangat yang sama seperti Langit Kresna Hariadi ini. Akhir kata, walaupun agak terlalu cepat, selamat hari kemerdekaan RI. Merdeka! <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/08/03/media-hiburan-untuk-meningkatkan-rasa-bangga-terhadap-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemampuan dan Kewenangan di Bidang Kedokteran</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/06/23/kemampuan-dan-kewenangan-di-bidang-kedokteran/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/06/23/kemampuan-dan-kewenangan-di-bidang-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 06:29:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[malpraktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/06/23/kemampuan-dan-kewenangan-di-bidang-kedokteran/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin di Suara Merdeka termuat berita tentang seorang remaja di India berusia 15 tahun yang sudah berani melakukan bedah cesar. Ayahnyalah, dr. K. Murugesan yang mengajarinya dan mengizinkannya. Kebetulan ia mengelola rumah sakit bersalin di kota Manaparai. Lantas saja hal &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/06/23/kemampuan-dan-kewenangan-di-bidang-kedokteran/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin di Suara Merdeka termuat berita tentang seorang remaja di India berusia 15 tahun yang sudah berani melakukan bedah cesar. Ayahnyalah, dr. K. Murugesan yang mengajarinya dan mengizinkannya. Kebetulan ia mengelola rumah sakit bersalin di kota Manaparai. Lantas saja hal ini mendapat kecaman dari Asosiasi Dokter India.</p>
<p>Eh, malah sang ayah menuduh asosiasi dokter tersebut iri dengan prestasi anaknya. Sudah begitu, ternyata tujuan si anak dilepas melakukan bedah cesar adalah agar tercatat dalam Guinnes Book of Record sebagai ahli bedah termuda??</p>
<p>Kalau ditanya &#8216;benarkah tindakan si dr. Murugesan ini?&#8217; pastinya jawabannya salah. Ini merupakan tindakan ilegal. Selain itu juga melanggar etika. Aku heran, bagaimana sih jalan pikiran si dokter ini?</p>
<p>Pendidikan-pendidikan profesi, seperti kedokteran agak berbeda dengan pendidikan lainnya. Di sini seseorang menempuh jenjang pendidikan bukan hanya sekedar mencari ilmu. Siapa saja bisa belajar ilmu kedokteran sendiri, bahkan di era informasi sekarang ini bukan hal yang sulit untuk mencari referensi-referensi kedokteran dari manapun. Namun lebih dari itu, jalur pendidikan seperti ini bertujuan agar seseorang yang telah menempuhnya mendapatkan <strong>kewenangan </strong>untuk melakukan tindakan sesuai dengan profesinya.</p>
<p>Melakukan tindakan yang di luar kewenangannya, apalagi lagi di dunia medis yang bersinggungan dengan keselamatan orang lain merupakan pelanggaran hukum. Bahkan seorang dokter yang yang melakukan di luar kompetensinya (misalnya tindakan medis spesialistik yang bukan keahliannya) juga merupakan pelanggaran kode etik. Jadi seseorang yang dikatakan mampu belum tentu berwenang untuk melakukan tindakan medis.</p>
<p>Lagipula, bagaimana bisa tindakan yang benar-benar diatur oleh hukum dan etika dilakukan oleh seseorang di bawah umur yang belum sepenuhnya dapat bertanggungjawab di mata hukum?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/06/23/kemampuan-dan-kewenangan-di-bidang-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog, Potensi Media Alternatif &#8211; Kesimpulan dari Acara e-Life Style Metro TV</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/04/01/blog-potensi-media-alternatif-kesimpulan-dari-acara-e-life-style-metro-tv/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/04/01/blog-potensi-media-alternatif-kesimpulan-dari-acara-e-life-style-metro-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 09:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/04/01/blog-potensi-media-alternatif-kesimpulan-dari-acara-e-life-style-metro-tv/id/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang siang hari ini, setelah menonton MTV Pimp My Ride, tidak sengaja aku lihat iklan e-lifestyle untuk hari ini juga. Sekilas yang membuat aku menarik, yang akan dibahas dalam acara e-lifestyle hari itu ialah tema berjudul &#8220;Malaysia Diguncang Para Blogger&#8221;. &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/04/01/blog-potensi-media-alternatif-kesimpulan-dari-acara-e-life-style-metro-tv/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang siang hari ini, setelah menonton MTV Pimp My Ride, tidak sengaja aku lihat iklan e-lifestyle untuk hari ini juga. Sekilas yang membuat aku menarik, yang akan dibahas dalam acara e-lifestyle hari itu ialah tema berjudul &#8220;Malaysia Diguncang Para Blogger&#8221;. Melihat cuplikannya, serta screenshot blog yang ditampilkan, langsung aku tahu kalau ini masalah tulisan blog <a href="http://nilatanzil.blogspot.com/2007/02/behind-screen-of-melancong_117039042046054747.html" title="Behind The Screen of “Melancong Yuk”: Malaysia Episodes :)" target="_blank">Nila Tanzil</a>, reporter <a href="http://sctv.co.id">SCTV</a> yang membuat Menteri Pariwisata Malaysia marah. Kebetulan saya pernah membaca tentang ini dari <a href="http://blog.tempointeraktif.com/?p=31" title="Blog VS TV Swasta">Blog Tempointeraktif</a>. Secara aku blogger juga, jadi tertarik untuk melihatnya.</p>
<p>Tapi ternyata topik episode e-lifestyle hari itu ialah &#8220;Blog &#8211; Potensi Media Alternatif&#8221; (tidak sama persis seperti yang diiklankan <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#100;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#100;' /> ). Salah narasumber yang diajak berbicara di situ ialah <a href="http://budiputra.com" title="Blog Budi Putra">Budi Putra,</a> <a href="http://perspektif.net">Wimar Witoelar</a>, dan<a href="http://www.virtual.co.id/blog/?p=198"> Nukman Luthfie</a><strong>.</strong></p>
<p>Kasus yang menjadi perhatian di sini (mungkin ada yang belum pernah membaca), berawal dari reporter SCTV yang diundang oleh Malaysian Tourism Board untuk meliput pembukaan Floral Festival 2007 di Malaysia. Namun setibanya di sana, mereka malah tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Alhasil, reporter tersebut menuliskan pengalaman mereka di blog pribadi mereka. Namun rupanya tulisan blog ini sampai mendapat perhatian Malaysian Tourism Board. Belakangan, Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor bahkan sampai mengatakan &#8220;bloggers are liar&#8221; tanggal 8 Maret 2007.</p>
<blockquote><p>All bloggers are liars, they cheat people using all kinds of methods. From my understanding, out of 10,000 unemployed bloggers, 8,000 are women.</p>
</blockquote>
<p>Yang saya simpulkan dari acara tersebut, blog memang fenomena yang cukup mengagumkan, yang membuka pintu bagi seluruh orang untuk mempublikasikan tulisan mereka ke seluruh dunia dengan begitu mudahnya. Namun para blogger masih menganggap bahwa blog merupakan wilayah pribadi mereka, padahal setelah mereka menekan tombol &#8220;Publish&#8221;, tulisan itu dapat dibaca oleh jutaan orang.</p>
<p><span id="more-40"></span>Media blog bahkan saat ini merupakan saingan media massa. Bahkan kerapkali informasi dari blog lebih mudah tertangkap oleh mesin-mesin pencari (misal: Google) ketimbang informasi dari media-media terpercaya. Bukan berarti informasi dari blog itu tidak dapat dipercaya, tetapi memang belum ada jaminan. Bagi orang-orang yang sudah betul-betul paham dengan internet pastinya sudah bisa untuk memilah-milah mana sumber yang dipercaya mana yang tidak. Namun bagi orang yang awam (dan di Indonesia banyak sekali), ia cenderung mengambilnya begitu saja.</p>
<p>Apalagi sekarang hampir tidak ada batasan antara blog dan situs resmi. Banyak pula perusahaan-perusahaan atau media yang mengusung format blog untuk situs resminya. Karena terbukti format blog mempunyai kekuatan tersendiri, terutama dalam segi interkonektivitas antar sesama blogger (mengutip pernyataan Pak Wimar Witoelar dalam acara tesebut).</p>
<p>Yang namanya blogger memang memiliki karaker khas masing-masing. Ada yang lebih suka menulis informasi-informasi yang berguna bagi orang lain, ada yang suka berbagi ilmu, ada yang lebih suka berbagi pengalaman. Nah, untuk yang terakhir ini biasanya memang menggunakan bahasa apa adanya dan terkadang tidak mengenakkan untuk pihak lain.</p>
<p>Kalau menurut saya sih, sah-sah saja menulis kritikan terhadap sesuatu atau seseorang di blog, asalkan itu berdasarkan dengan kenyataan dan fakta-fakta, tidak menipu dan memfitnah. Untuk tulisan yang diperbincangkan di acara e-LifeStyle ini, menurut saya tidak terkesan menghina kok. Mereka hanya menceritakan apa yang mereka alami saja di sana. Tapi sayang, ya, Nila Tanzil sampai disuspend oleh SCTV. Keep fighting deh mbak!</p>
<p>Ada yang saya tangkap di akhir acara ketika Pak Wimar Witoelar mengatakan</p>
<blockquote><p>Kalau orang punya kekuasaan terhadap media, jangan kekuasaan tersebut digunakan untuk memblok pengkritik&#8230;</p>
</blockquote>
<p>sepertinya kata-katanya terpotong (atau dipotong ya? <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> ) bagi yang tahu ceritain dong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/04/01/blog-potensi-media-alternatif-kesimpulan-dari-acara-e-life-style-metro-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ethico Medico Legal bagi Mahasiswa Kedokteran</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/03/20/ethico-medico-legal-bagi-mahasiswa-kedokteran/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/03/20/ethico-medico-legal-bagi-mahasiswa-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2007 12:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/2007/03/20/ethico-medico-legal-bagi-mahasiswa-kedokteran/</guid>
		<description><![CDATA[Profesi dokter merupakan profesi yang paling sering berhadapan dengan realita. Untuk itu seorang dokter dituntut memiliki karakter yang teguh, memiliki empati, pandai berkomunikasi, dan menjunjung tinggi etika. Beberapa hari lalu dalam kuliah saya mencatat dari kuliah dosen saya bahwa kompetensi &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/03/20/ethico-medico-legal-bagi-mahasiswa-kedokteran/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hudatoriq.web.id/files/bbdm.jpg" alt="mahasiswa sedang berdiskusi" style="margin: 0px 10px 10px 0px" align="left" />Profesi dokter merupakan profesi yang paling sering berhadapan dengan realita. Untuk itu seorang dokter dituntut memiliki karakter yang teguh, memiliki empati, pandai berkomunikasi, dan menjunjung tinggi etika.</p>
<p>Beberapa hari lalu dalam kuliah saya mencatat dari kuliah dosen saya bahwa kompetensi dokter yang utama ialah: (1) Humanisme, (2) Profesionalisme, (3) Managerial, (4) Etik. Sedangkan Ilmu-Ilmu Kedokteran disebutkan merupakan kompetensi pendukung, <strong>bukan kompetensi utama</strong>. Sangat menarik memang, karena selama ini saya kira justru kebalikannya.</p>
<p>Mencetak karakter yang memenuhi empat kompetensi utama di atas tentu lebih sulit daripada mendidik para mahasiswa dengan ilmu kedokteran yang harus dikuasainya. Sayangnya lagi, sepertinya masih ada anggapan bahwa masalah etik merupakan seni yang bisa dipelajari sendiri sehingga belum ada keseriusan dari institusi penyelenggara pendidikan kedokteran dalam memberikan materi tentang etika kepada mahasiswa.</p>
<p>Di kedokteran walaupun sudah diberikan mata kuliah Etika Kedokteran, namun tidak ada kurikulum yang baku untuk mata kuliah tersebut, tidak seperti mata kuliah lainnya, tukas dosen saya &#8211; yang juga merupakan Wakil Ketua Majelis Komisi Etik Kedokteran Jawa Tengah.</p>
<p><span id="more-32"></span>Di FK Undip, kuliah tentang Etika disampaikan dua kali, yaitu di semester satu (Humaniora &#038; BBDM) dan di semester akhir (Kepaniteraan Umum). Saya ingat dulu ketika baru masuk kuliah setiap mahasiswa diberi tugas untuk menyalin Sumpah Hipocrates dan seluruh buku Kode Etik Kedokteran Indonesia sampai habis. Dan ternyata benar-benar diperiksa dosen! Kesalahan-kesalahan menyalin sampai ada yang korupsi (memangkas beberapa Pasal karena kelelahan menyalin) benar-benar diperhatikan oleh dosen. Untung waktu itu tidak ikut-ikutan curang. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Di BBDM (Belajar Bertolak Dari Masalah), kami dihadapkan dengan satu contoh kasus dan diberi tugas untuk mendiskusikan segala aspek dalam kasus itu termasuk aspek etika. Bisa dibayangkan kita-kita dulu yang belum punya ilmu apa-apa tentang kedokteran harus berbicara panjang lebar tentang aspek etika penanganan suatu kasus. Tapi ini cukup bagus untuk proses pembelajaran. Bahkan pembahasan etika ini benar-benar menyeluruh, sampai dari segi agama (seluruh agama). Kami yang Islam mengajarkan kepada mahasiswa agama lain tentang perspektif agama kami, begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Motivasi mahasiswa masuk kedokteran tentu beraneka ragam &#8211; mulai dari ketertarikan akan bidang keilmuannya, dorongan diri untuk mengabdi, sampai ingin menjadi sukses dan kaya atau karena dipaksa orang tua. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> Pengenalan terhadap etika kedokteran secara dini di semester pertama (diharapkan) mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam menuntut ilmu di kampus.</p>
<p>Di kepaniteraan umum (semester akhir) materi yang disampaikan pun lebih mendalam, dipadu dengan contoh-contoh kasus, misalnya jika sedang berhadapan dengan pasien stadium terminale berikut keluarganya. Bagaimana kita bersikap, menjelaskan keadaan pasien kepada keluarganya, memberikan keputusan medis dan etik, dan sebagainya. Karena sudah menerima materi-materi kedokteran lainnya, tentu daya tangkap kami berbeda dengan sewaktu di semester satu.</p>
<p>Di era berlakunya Undang-Undang Praktik Kedokteran, mahasiswa kedokteran perlu diberi tambahan bekal lagi. Penguasaan norma-norma hukum, terutama yang berkaitan dengan kedokteran dan kesehatan harus menjadi kompetensi tersendiri bagi para dokter. Jangan sampai dokter-dokter lulusan baru tersandung masalah hukum karena ketidaktahuan, atau bahkan diperas dan diancam karena dituduh melakukan malpraktik padahal belum tentu sebenarnya ia bisa dijerat dengan hukum.</p>
<p>Memang banyak sekali (praktisi medis) yang mengakui bahwa UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran ini masih banyak kejanggalannya. Di antaranya kesalahan pelanggaran administrasi dijerat dengan hukuman pidana, serta aturan-aturan lain yang terkesan membelenggu praktik kedokteran. Namun biarlah selagi PB IDI berusaha untuk merekomendasikan amandemen atau setidaknya <em>judicial review</em> terhadap UU tersebut (hasil rekomendasi Muktamar IDI ke-26 Desember 2006 di Semarang), para dokter tetap menjaga profesionalitas mereka di bawah payung hukum ini, dan mahasiswa diberi bekal dan pemahaman yang cukup.</p>
<p>Mengingat kurangnya pemberian materi-materi ini dalam sistem perkuliahan, perlu dilakukan seminar-seminar atau diskusi rutin mengenai hal ini. Seperti misalnya Public Discussion tentang Malpraktik yang saya singgung dalam posting saya yang <a href="http://www.hudatoriq.web.id/2006/11/29/pembungkaman-suara-dokter-dan-selektivitas-pers-fenomena-dalam-isu-malpraktik/">berikut ini (klik untuk melihat posting)</a> atau <a href="http://www.bemkuundip.org/index.php/2007/03/20/seminar-entrepreunership-menjawab-tantangan-dokter-masa-depan/">Seminar Menjawab Tantangan Dokter Masa Depan</a> yang baru dilakukan oleh BEM Kedokteran Umum Undip Minggu (18/3) kemarin. Dan yang lebih penting tentunya, mahasiswa dituntut untuk turut berpartisipasi mengikutinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/03/20/ethico-medico-legal-bagi-mahasiswa-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konten Web Dalam Negeri</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2006 04:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hudatoriq.web.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi internet yang mengalami kerugian, terganggunya proses belajar mandiri mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan referensi di situs web luar negeri, atau paling tidak guncangan bagi para <em>blogger </em>yang tidak bisa <em>blogwalking </em>seperti biasanya <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' />. Basi banget? Eit, tunggu dulu. Saya bukannya mau bercerita mengenai kejadian yang mengakibatkan putusnya kabel data bawah laut itu. Saya hanya ingin mengajak kita semua berkaca dari peristiwa tersebut.</p>
<p>Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita pungkiri memberikan kita kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai hal. Namun dengan berbagai kemudahan yang didapat, manusia cenderung untuk mengalami keadaan yang biasa kita sebut ketergantungan. Dan ketika kemudahan itu dicabut, bingunglah mereka. Di era informasi seperti sekarang ini kita memang dituntut untuk melakukan banyak hal dengan cepat dan tidak mungkin kita lepas dari yang namanya teknologi, kecuali kalau kita rela kalah bersaing. Namun yang perlu kita camkan baik-baik, teknologi hanyalah alat. Ia buatan manusia yang tidak luput dari yang namanya salah dan lupa. Jadi sebenarnya adalah salah kalau kita terlalu menggantungkan diri pada teknologi untuk melakukan segala hal, apalagi mendewa-dewakannya.</p>
<p><span id="more-24"></span>Sekarang taruhlah memang kita harus menganggap ketergantungan terhadap teknologi itu adalah hal yang wajar di zaman sekarang ini. Dengan putusnya kabel bawah laut beberapa hari lalu praktis hubungan data dari negara Indonesia ke luar negeri putus. Beberapa provider memang masih memiliki jalur peering langsung ke beberapa negara tanpa melalui gateway yang putus tersebut. Namun tentu saja jalur tersebut  tidak mencukupi, ibarat pembuluh-pembuluh kolateral jantung harus mengkompensasi obstruksi arteri coronaria (halah..!).</p>
<p>Transaksi data di jaringan dalam negeri tidak mengalami masalah dan seharusnya tidak mengganggu komunikasi dalam negeri. Namun pada kenyataannya, tetap saja pengguna internet dalam negeri mengalami kendala berkomunikasi dengan rekan dalam negerinya. Bagaimana tidak, penyedia-penyedia konten internet yang terpercaya sebagian besar berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan penyedia jasa-jasa di internet.<br />
Ambil saja email sebagai contoh. Untuk berkirim email sesama pengguna dalam satu kota saja, pengguna internet yang kebanyakan menggunakan penyedia jasa email gratis seperti <a title="Yahoo! Mail" href="http://mail.yahoo.com/">Yahoo!</a>, <a title="Google Email" href="http://gmail.google.com/">GMail</a> atau <a title="Hotmail" href="http://www.hotmail.com/">Hotmail </a>diharuskan untuk mengakses mailservernya di luar negeri. Pengguna mailserver-mailserver lokal nampaknya tidak mengalami kendala. Namun berapa persen pengguna email yang menggunakan jasa email lokal?</p>
<p>Tambahan lagi, belum jaminan bahwa dalam keadaan putusnya <em>gateway internasional </em>kita tidak akan mengalami gangguan dalam mengakses situs web lokal (penyedia kontennya dari dalam negeri). Hal ini bisa disebabkan karena penyedia konten tersebut melakukan web hosting di server luar negeri. Kalaupun mereka melakukan hosting pada perusahaan dalam negeri, belum tentu pula servernya berada di dalam negeri karena saat ini banyak juga perusahaan-perusahaan web-hosting dalam negeri yang menyewakan <em>dedicated servernya</em> yang berlokasi di luar negeri (biasanya di Amerika Serikat).</p>
<p>Instant Messeging adalah satu lagi contoh layanan web yang banyak digunakan oleh pengguna internet. Untuk yang satu inipun penyedia jasanya masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Biasanya memang terintegrasi dengan layanan email sehingga memudahkan bagi pengguna karena tidak perlu terlalu banyak membuat account. Dalam keadaan seperti sekarang ini tentu saja sektor ini juga terkena imbasnya. Kemarin siang saja saya tidak bisa melakukan Net Meeting dengan lancar dengan teman-teman Badan Pers Nasional ISMKI. Padahal agendanya cukup penting dan mendesak, membahas rencana kegiatan Musyawarah Nasional BPN awal Februari depan. Teman-teman kedokteran setanah air memang terbiasa untuk menggunakan <em>instant messeging</em> untuk mengadakan rapat-rapat serta diskusi antar institusi untuk mengantisipasi masalah perbedaan tempat.</p>
<p>Tadi saya sempat menyinggung masalah ketergantungan pada teknologi. Dengan melihat fenomena yang saya sampaikan tadi, bisa dibilang kalau kita, masyarakat Indoneisa tidak hanya mengalami ketergantungan pada teknologi. Kita bahkan bisa disebut ketergantungan pada orang yang menciptakan teknologi itu (maksud saya perusahaan-perusahaan penyedia konten web dari luar negeri tadi). Kalau dipikir-pikir bukankah ini memalukan? Selama ini sepertinya biasa-biasa saja, namun dengan kejadian kemarin nampaknya memang kita harus introspeksi lagi.</p>
<p>Di era <em>web 2.0</em> yang sering digembor-gemborkan ini, pengguna internet pun memiliki kesempatan luas menyumbangkan ide serta informasi dan menorehkan tintanya di lautan maya ini. <em>Wiki </em>serta <em>blog </em>menjadi tren di mana-mana. Saat ini <em>googling </em>dengan keyword berbahasa Indonesia menghasilkan output yang lebih besar ketimbang beberapa tahun silam. Namun lagi-lagi <em>blog-blog instan</em> (istilah saya sendiri untuk <em>blog </em>yang dapat dibuat hanya dengan registrasi dan langsung menulis) tersebut biasanya berasal dari luar negeri, walaupun penulis maupun kontributornya orang Indonesia. Saya jamin tidak semua orang bisa menyebutkan penyedia <em>hosting blog </em>instan yang berasal dari Indonesia.</p>
<p>Lantas di sini siapa yang bisa disalahkan? Pelaku bisnis web dalam negerikah? penggunakah? Atau pemerintah? Pengguna tentunya menginginkan layanan terbaik yang bisa ia dapatkan, tidak peduli bahwa layanan itu didapatnya dari luar negeri maupun dalam negeri karena di dunia maya itu tidak menjadi masalah (kalau tidak ada kejadian seperti kemarin). Nyatanya memang kualitas layanan serta konten web domestik kita kalah dibandingkan dengan milik asing.</p>
<p>Apakah pemain-pemain di bidang IT kita memang tidak mampu untuk membuat produk serta layanan dengan kualitas yang sebanding? Menurut saya sih tidak juga. Banyak programmer serta developer web kita yang cukup handal. Yang jadi masalah ialah kurangnya apresiasi dan penghargaan terhadap karya cipta dan kekayaan intelektual di negeri ini. Untuk apa mereka menghabiskan waktu mereka berkutat dengan kode-kode kalau mereka tidak mendapatkan reward yang pantas? Kalau kita terus mengasosiasikan dan mengait-ngaitkan sebab permasalahan ini biasanya akan menjadi sebuah lingkaran setan. Ujung-ujungnya pemerintah yang disalahkan karena tidak bisa menciptakan iklim bisnis internet yang menjanjikan di Indonesia.</p>
<p>Geliat bisnis internet di Indonesia sebenarnya sudah mulai tampak. Hanya saja porsinya masih sedikit. Kapan ya kita bisa mengandalkan 100% konten serta layanan-layanan web dalam negeri mulai dari email, informasi, referensi, sampai instant messeging? Tantangan buat kita semua baik developer maupun pengguna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2006/12/31/konten-web-dalam-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

