<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thariqul Huda &#187; Info Menarik</title>
	<atom:link href="http://hudatoriq.web.id/category/info-menarik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hudatoriq.web.id</link>
	<description>Huda's Life, On The Row</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 15:41:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mencadangkan, Menyinkronkan dan Berbagi Data Buku Telepon</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2009/01/13/mencadangkan-menyinkronkan-dan-berbagi-data-buku-telepon/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2009/01/13/mencadangkan-menyinkronkan-dan-berbagi-data-buku-telepon/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 10:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira seminggu yang lalu akhirnya ponsel Sony Ericsson saya bisa saya ambil dari service centre (setelah penantian berbulan-bulan). Ternyata ponsel saya benar-benar diganti. Jadi kinclong lagi deh. Data-data tentu saja hilang semua. Dokumen, musik dan foto aman karena di memory &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2009/01/13/mencadangkan-menyinkronkan-dan-berbagi-data-buku-telepon/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira seminggu yang lalu akhirnya ponsel Sony Ericsson saya bisa saya ambil dari <em>service centre</em> (setelah penantian berbulan-bulan). Ternyata ponsel saya benar-benar diganti. Jadi kinclong lagi deh. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Data-data tentu saja hilang semua. Dokumen, musik dan foto aman karena di <em><em>memory stick</em></em>. Namun bagaimana dengan buku telepon yang disimpan di memori internal ponsel? Untungnya saya selalu mencadangkan buku telepon, jadi gak perlu repot-repot mencari dan mencatat ulang dari teman-teman.</p>
<p><span id="more-177"></span>Saya berkali-kali menemukan teman (pacar saya juga salah satunya) yang kebingungan mencari nomor telepon penting setelah ponsel nya hilang atau rusak. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau kita rajin mencadangkan dan menyinkronkan buku telepon tersebut ke tempat lain.</p>
<p>Bagi orang yang sering berinteraksi dengan rekan kerja/klien melalui berbagai media dan berbagai tempat, sinkronisasi buku telepon akan sangat memudahkan pekerjaan. Misal: ketika hendak menelepon atau mengirim SMS, seseorang bisa menggunakan buku telepon ponsel. Ketika dia sedang tidak membawa ponsel dan sedang terhubung ke internet, dia bisa menggunakan buku telepon di penyedia email yang kita gunakan. Dengan sinkronisasi secara rutin, entri yang dimasukkan atau diperbarui di salah satu tempat akan dimasukkan dan diperbarui pula di tempat yang lain.</p>
<p>Dari yang saya lalui, saya menemukan berbagai macam jalur sinkronisasi buku telepon yang bisa digunakan:</p>
<ul>
<li>ponsel &#8211; email client (komputer)</li>
<li>ponsel &#8211; server</li>
<li>email client- server</li>
<li>antar server (layanan1 &#8211; layanan2)</li>
</ul>
<p><strong>ponsel &#8211; email client (komputer)</strong></p>
<p>Jika Anda sering menggunakan <em>email client</em> dalam berkirim email, tentunya Anda membutuhkan buku telepon <em>email client </em>yang lengkap dan diperbarui. Apalagi bila selain berkirim email lewat <em>email client</em>, Anda juga sering menghubungi kontak Anda tersebut melalui telepon, SMS atau mobile email.</p>
<p>Biasanya setiap membeli ponsel yang mendukung konektivitas, Anda juga akan disediakan perangkat lunak sinkronisasi, biasanya sih tergabung dalam PC Suite nya. Anda dapat menggunakan aplikasi tersebut. Sayangnya, kebanyakan <em>Sync tool</em> tersebut hanya mendukung <em>email client</em> Microsoft Outlook.</p>
<p>Untuk pengguna Sony Ericsson seperti saya, juga bisa menggunakan aplikasi pihak ketiga yang gratis bernama MyPhoneExplorer yang bisa disinkronkan dengan Thunderbird!</p>
<p><strong>ponsel &#8211; server</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-181" href="http://hudatoriq.web.id/2009/01/13/mencadangkan-menyinkronkan-dan-berbagi-data-buku-telepon/plaxo/"><img class="size-full wp-image-181 alignleft" title="plaxo" src="http://hudatoriq.web.id/files/2009/01/plaxo.jpg" alt="plaxo" width="150" height="48" /></a></p>
<p><a href="http://zyb.com"><img class="alignleft size-full wp-image-180" title="zyblogo" src="http://hudatoriq.web.id/files/2009/01/zyblogo.jpg" alt="zyblogo" width="137" height="101" /></a></p>
<p>Sebagian ponsel juga disertai fitur wireless synchronization over the air melalui GPRS. Kita tinggal mencari server sinkronisasi yang akan kita pakai. Di Indonesia Indosat punya layanan <a href="http://www.indosat.com/Mobile_Features/More_Features/MyBACKUP">MyBacup</a> yang memungkinkan ini. Untuk operator lain saya kurang tahu. Selain itu banyak juga layanan serupa di luar negeri. Salah satu contohnya ialah <a href="http://zyb.com">zyb</a>. Salah satu layanan lain yang cukup populer ialah <a href="http://plaxo.com">plaxo</a>. Tapi untuk sinkronisasi plaxo dengan ponsel kita harus menggunakan layanan berbayar.</p>
<p>Pembaruan data di kedua sisi (ponsel dan server) berlangsung secara otomatis begitu kita eksekusi. Kedua data tersebut akan diperiksa satu sama lain, dan bila ada entri baru di salah satu sisi, akan disalin ke tempat di mana entri tersebut belum ada.</p>
<p>Kelemahan dari mekanisme ini, proses pembandingan kedua data buku telepon (ponsel dan server) dilakukan oleh mesin. Terkadang dua entri yang sebenarnya sama dianggap entri yang berbeda karena suatu hal (informasi yang sudah disunting, perbedaan karakter, dsb). Ini berisiko membuat duplikasi di buku telepon kita, yang seringkali menjengkelkan.</p>
<p><strong>email client &#8211; server</strong></p>
<p>Ada beberapa metode di sini. Yang pernah saya temui antara lain:</p>
<ol>
<li>Sinkronisasi email client dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/LDAP">LDAP</a> server. Email client populer saat ini biasanya dilengkapi dengan fitur untuk berhubungan dengan LDAP server</li>
<li>Sinkronisasi <em>email client</em> dengan-layanan-layanan web seperti <a href="http://plaxo.com">Plaxo</a>, <a href="http://gmail.com">Gmail</a> contact, dsb. Biasanya perlu add-on/plugin khusus. Untuk Plaxo, add on disediakan oleh penyedia layanan. Untuk GMail Contact, terdapat plugin pihak ketiga yang bisa diinstal.</li>
</ol>
<p><strong>antar server (layanan1 &#8211; layanan2)</strong></p>
<p>Contohnya di sini, antara <a href="http://plaxo.com">plaxo</a> dan <a href="http://gmail.com">gmail</a> serta <a href="http://yahoo.com">yahoo</a>. Dengan memberikan akses gmail kita ke plaxo, misalnya, plaxo bisa membaca buku telepon/buku alamat kita di GMail, membandingkannya dengan data di plaxo dan menyinkronkannya. Proses penyinkronan bisa dilakukan secara berkala di belakang layar.</p>
<p>Dengan menggabungkan jalur-jalur sinkronisasi di atas, kita bisa mempertahankan kesamaan data buku telepon kita antara ponsel, komputer (email client), dan server yang kita pakai (webmail atau LDAP server).</p>
<p><strong>Networked Address Book, Address Book 2.0</strong></p>
<p>Kalau sebelumnya kita berbicara tentang menyamakan buku telepon kita di berbagai tempat, networked address book ini tentang bagaimana menyamakan data buku telepon yang kita punya dengan data orang lain (terutama orang yg datanya ada di dalam buku telepon kita).</p>
<p>Dengan sama-sama terhubungnya saya dan teman saya ke dalam sebuah social network dan menaruh data-datanya di sana, memungkinkan kita untuk selalu memperbarui data buku telepon yang saya miliki. Lagi-lagi <a href="http://plaxo.com">Plaxo</a>, layanan networked address book dan social network menyediakan hal ini. Jika teman saya mengubah nomor teleponnya, maka buku telepon saya di plaxo juga akan diperbarui, dan seterusnya dengan penyinkronan berkala data di komputer saya juga diperbarui.</p>
<p>Ketika kita menambahkan email di buku alamat kita, Plaxo mencarinya di basis datanya dan menyajikan kontak lengkap orang tersebut di buku telepon saya (jika orang yang bersangkutan memperbolehkannya). Pernah suatu saat saya mengirim email kepada seorang klien yang baru saya kenal (hanya alamat emailnya saja yang saya ketahui). Setelah itu besoknya di email client saja sudah ada kontak lengkap orang tersebut di komputer saya: nama lengkap, nomor telepon, tanggal ulang tahun dan sebagainya. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#41;' /></p>
<p>Sayangnya pengguna Plaxo, terutama di Indonesia tidak terlalu besar. Hanya <em>geek</em> dan orang yang <em>tech savvy</em> (itu pun hanya sebagian) saja yang mengikutinya. Di sisi lain, <em>social network</em> yang basis penggunanya cukup besar seperti <a href="http://facebook.com">Facebook</a> sangat protektif dalam mempertahankan social graph nya yang berkaitan dengan informasi alamat email. Hal ini menjadi penghalang untuk dikembangkannya aplikasi sinkronisasi data dengan layanan lain atau dengan komputer/ponsel kita.</p>
<p>Layanan sinkronisasi mana yang sebaiknya kita pakai? Untuk itu, tergantung kebutuhan kita masing-masing. Yang penting tentukan satu tempat yang dijadikan sebagai master/cadangan utama. Setelah itu gunakan jalur-jalur yang ada untuk menyamakan semua buku telepon yang kita punya. Kalau ada kesalahan atau gangguan (yang paling sering: duplikasi data) diusahakan sebias mungkin mudah untuk memperbaikinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2009/01/13/mencadangkan-menyinkronkan-dan-berbagi-data-buku-telepon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Object Oriented Programming dalam Plugin WordPress</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2008/05/27/object-oriented-programming-dalam-plugin-wordpress/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2008/05/27/object-oriented-programming-dalam-plugin-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 08:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[php]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[wp-hacks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana cara penulisan plugin WordPress yang baik? Bagaimana cara yang benar dalam menerapkan Object-Oriented Programming dalam plugin WordPress? Blog berikut cukup bisa dijadikan sumber bacaan: http://funcdoc.wordpress.com Di milis wp-hackers juga sedang terjadi usaha untuk merubah plugin Hello Dolly ke bentuk &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2008/05/27/object-oriented-programming-dalam-plugin-wordpress/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana cara penulisan plugin WordPress yang baik? Bagaimana cara yang benar dalam menerapkan Object-Oriented Programming dalam plugin WordPress? Blog berikut cukup bisa dijadikan sumber bacaan: <a href="http://funcdoc.wordpress.com">http://funcdoc.wordpress.com</a></p>
<p>Di milis wp-hackers juga sedang terjadi usaha untuk merubah plugin Hello Dolly ke bentuk yang lebih modern dengan pendekatan OOP.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2008/05/27/object-oriented-programming-dalam-plugin-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksara Nusantara</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 10:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[CommentMailer]]></category>
		<category><![CDATA[i18n]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut kota juga merupakan bukti bahwa, walaupun aksara ini telah hampir sepenuhnya tergantikan oleh aksara latin, sebenarnya bangsa kita masih cinta dan bangga atas kekayaan negeri kita yang satu ini. Sebagai contoh, penggunaan aksara Jawa pada papan nama jalan di berbagai penjuru kota Surakarta dan Yogyakarta. Atau penerapan yang sama pada <a href="http://nieke.keritikentang.com/?p=94">aksara Arab Melayu di kota Pekanbaru</a> <strike>belakangan ini</strike>.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2008/01/aksara_hanacaraka.jpg" alt="Aksara Jawa" /></p>
<p style="text-align: center">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2008/01/aksara_sunda.jpg" alt="Aksara Sunda" /></p>
<p style="text-align: center">&nbsp;</p>
<p>Berbicara tentang aksara tradisional, awal tahun 2008 ini diwarnai dengan dimulainya sebuah proyek sumber terbuka yang diberi nama <a href="http://code.google.com/p/aksara-nusantara/">Aksara Nusantara</a>. Proyek yang dikomando oleh <a href="http://www.mdamt.net/">Pak Mohammad DAMT</a> ini bertujuan membuat sistem yang baku untuk menciptakan, menyunting dan menampilkan dokumen elektronik berbahasa daerah di Indonesia menggunakan aksara tradisional masing-masing. Sistem penulisan dan penampilan dokumen akan mengikuti standar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a> sehingga diterima secara universal di seluruh dunia.</p>
<p><span id="more-104"></span>Proyek ini merupakan tanggapan atas telah dicantumkannya beberapa aksara tradisional Indonesia ke dalam daftar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a>, yaitu Aksara Bugis (Lontara) dan Bali, dan sedang diajukannya proposal pencantuman Aksara Sunda, Jawa, Batak dan Rejang.</p>
<p><strong>Deskripsi Proyek </strong></p>
<p>Saat ini proyek tersebut berfokus pada pembuatan fonta dan tabel SCIM (metoda input karakter standar di Linux) yang semuanya nanti akan dirilis di bawah GPL. Saat saya menulis tulisan ini, aksara Bugis telah dirampungkan oleh Pak Mohammad DAMT, sedangkan aksara Bali yang juga sudah tercantum dalam Unicode sepertinya belum ada yang mengerjakan. Untuk aksara Jawa, walaupun proposal Unicodenya belum diterima, sedang saya garap sedikit-sedikit fonta dan metoda inputnya. Dan kabar terakhir yang saya dengar di mailing list, <a href="http://chickenstrip.wordpress.com">Diki Niwatori</a> sedang menggarap aksara Sunda.</p>
<p><strong>Komputerisasi Aksara Tradisional Saat Ini</strong></p>
<p>Saat ini sebenarnya komputerisasi aksara tradisional sudah dapat dilakukan. Bentuknya yang paling sering ialah pembuatan dokumen seperti laiknya dokumen dalam alfabet, namun menggunakan fonta-fonta yang mensubstitusi karakter-karakter alfabet aslinya dengan aksara tradisional tadi. Cara ini sudah cukup memadai jika tujuan akhir dari pembuatan dokumen tersebut ialah untuk pencetakan. Untuk dokumentasi dan arsip elektronik, dokumen tersebut hanya dapat disimpan dalam format <em>rich text format</em> ataupun jenis dokumen dengan pemformatan teks lainnya seperti format dokumen milik Microsoft Office, Open Office, dan format-format teks sejenis lainnya. Dengan kata lain, informasi aksara tersebut terletak paralel dengan aksara latin. Dan jika dokumen tersebut disimpan dengan teks murni (<em>plain text</em>), maka kita harus menukar fonta yang digunakan oleh program penyunting teks kita untuk beralih dari aksara latin (yang tentunya akan nampak tidak memiliki arti) ke aksara tradisional.</p>
<p><strong>Unicode</strong></p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode">Unicode</a> ialah standar yang memungkinkan komputer secara konsisten menampilkan dan memanipulasi teks dalam berbagai sistem penulisan di dunia. Setiap <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Glyph">glif</a> dalam aksara yang sudah dimasukkan ke dalam daftar Unicode memiliki titik kode yang unik sehingga tidak tumpang tindih dengan karakter lainnya. Dengan kata lain, jika kita menyimpan informasi aksara tradisional sesuai dengan spesifikasi Unicode ini, informasi itu terletak seri dengan aksara latin dan dapat ditampilkan secara sekaligus dengan satu fonta.</p>
<p>Lembaga yang berwenang untuk mengkaji dan mengesahkan sebuah set aksara ke dalam daftar Unicode ini ialah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode_Consortium">Unicode Consortium</a>. Unicode saat ini telah mengandung sekitar 100.000 karakter dari berbagai sistem penulisan di dunia, termasuk di antaranya dua aksara tradisional di Indonesia.</p>
<p><strong>Manfaat Pencantuman Aksara Tradisional Indonesia ke Unicode serta Proyek Ini</strong></p>
<ol>
<li>Membantu proses pendidikan<br />
Pihak guru dan sekolah dapat secara mudah menciptakan dokumen aksara tradisional ini untuk alat bantu belajar mengajar.</li>
<li>Pengenalan aksara tradisional ke media yang baru&#8211;web<br />
Dokumen yang dibuat mengikuti standar Unicode akan diterima secara universal di seluruh dunia. Web merupakan sebuah media yang cocok untuk menjadi rumah baru bagi aksara tradisional kita jika standar ini sudah ditetapkan. Untuk melihat halaman web itu dengan benar, yang diperlukan bagi pengunjung adalah sebuah fonta yang mengandung glif dalam rentang titik yang digunakan oleh aksara tradisional Indonesia. Diharapkan setelah fonta-fonta hasil proyek ini dirilis dalam GPL, fonta ini akan disertakan dalam distribusi-distribusi sistem operasi ataupun terpisah sebagai paket tambahan. Sebagai contoh penerapannya, <a href="http://bug.wikipedia.org/Halamang_Utama">Wikipedia Bahasa Bugis</a> saat ini telah menggunakan aksara lontara.</li>
<li>Melestarikan budaya negeri moyang kita <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></li>
</ol>
<p>Usaha untuk mencantumkan aksara tradisional Indonesia ke daftar Unicode telah beberapa kali dilakukan oleh warga negara lain. Bahkan berbagai riset pun telah mereka lakukan. Paling tidak mari kita teruskan usaha ini, jangan sepenuhnya bergantung pada orang luar. Toh pada akhirnya kita yang akan memakainya. Jadi, kita sendiri yang harus memastikan bahwa penerapannya akan sesuai dengan kebutuhan kita.</p>
<p>Ditunggu partisipasinya di <a href="http://code.google.com/p/aksara-nusantara/">Aksara Nusantara</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2008/01/15/aksara-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyajikan Data Menggunakan Diagram secara Dinamis dan Mudah&#8211;Google Chart API</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/27/menyajikan-data-menggunakan-diagram-secara-dinamis-dan-mudah-google-chart-api/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/27/menyajikan-data-menggunakan-diagram-secara-dinamis-dan-mudah-google-chart-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 09:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[web programming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/27/menyajikan-data-menggunakan-diagram-secara-dinamis-dan-mudah-google-chart-api/</guid>
		<description><![CDATA[Ingin menyajikan data-data dengan diagram secara dinamis di halaman web? Dulu mungkin kita harus berkutat dengan fungsi-fungsi PHP untuk menggenerasi gambar. Itupun, server kita harus mendukung pustaka GD. Menggunakan Flash mempermudah pembuatan diagram yang indah. Namun tidak semua browser mendukung &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/27/menyajikan-data-menggunakan-diagram-secara-dinamis-dan-mudah-google-chart-api/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=p3&amp;chd=s:Uf9a&amp;chs=200x100&amp;chl=A|B|C|D" align="left" />Ingin menyajikan data-data dengan diagram secara dinamis di halaman web? Dulu mungkin kita harus berkutat dengan fungsi-fungsi PHP untuk menggenerasi gambar. Itupun, server kita harus mendukung pustaka GD. Menggunakan Flash mempermudah pembuatan diagram yang indah. Namun tidak semua browser mendukung Flash dan memang itulah yang menyebabkan Flash masih dihindari oleh sebagian desainer web. Namun saat ini membuat diagram sangatlah mudah dengan adanya <a href="http://code.google.com/apis/chart/" rel="nofollow">Google Chart API</a>.</p>
<p>Mendengar kata API, sebagian orang mungkin akan takut duluan, berpikir bahwa perlu waktu dan energi khusus untuk mempelajari tata cara penggunaan API tersebut. Jangan salah. API dari Google Chart hanya berupa aturan penulisan URL untuk menampilkan gambar diagram yang kita inginkan. Dalam URL tersebut kita sisipkan informasi-informasi diagram seperti apa yang ingin kita sajikan, berikut datanya-datanya.</p>
<p><span id="more-97"></span>Begini contohnya. Misalnya Anda ingin menampilkan diagram kue tiga dimensi yang menunjukkan perbandingan jumlah ayam dan itik yang Anda punya di peternakan Anda. Taruhlah Anda memiliki 125 ekor ayam dan 77 ekor itik. Anda bahkan tidak perlu menghitung persentase masing-masing jenis hewan tersebut. Cukup tulis URL berikut:</p>
<p class="code" style="font-size: 10px">http://chart.apis.google.com/chart?cht=p3&amp;<br />
chd=t:125.0,77.0&amp;chs=250&#215;100&amp;chl=Ayam|Itik</p>
<p>URL di atas ialah URL gambar diagram Anda. Sebagai catatan, URL Anda harus ditulis dalam satu baris. Contoh di atas dibagi menjadi dua baris dengan pertimbangan layout. Coba buka URL tersebut menggunakan perambah web kesukaan Anda, maka akan tampillah diagram yang Anda inginkan, yatu seperti ini:</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=p3&amp;chd=t:125.0,77.0&amp;chs=250x100&amp;chl=Ayam|Itik" /></p>
<p>URL di atas seperti URL pada umumnya, yang menjelaskan letak skrip yang akan dituju (dieksekusi) berikut parameter-parameter yang dimasukkan ke dalam skrip tersebut. Penjelasan URL contoh tersebut ialah seperti ini:</p>
<ol>
<li><code>http://chart.apis.google.com/chart?</code> ialah lokasi API tersebut</li>
<li><code>&amp;</code> tanda pemisah berbagai parameter</li>
<li><code>cht=p3</code> berarti jenis diagram yang ingin ditampilkan ialah diagram kue (pie chart) tiga dimensi</li>
<li><code>chd=t:125.0,77.0</code> ialah data yang ingin ditampilkan (dalam contoh tersebut ialah jumlah hewan ternak yang masing-masing 125 dan 77</li>
<li><code>chs=250x100</code> ialah ukuran gambar diagram Anda dalam piksel</li>
<li><code>chl=Ayam|Itik</code> ialah label untuk masing-masing nilai data yang dikirimkan (menjelaskan arti angka 125 dan 77)</li>
</ol>
<p>Untuk penjelasan selengkapnya, silakan baca halaman <em>developer&#8217;s guide</em> nya <a href="http://code.google.com/apis/chart/" rel="nofollow" title="Google Chart API Developer's Guide">di sini</a>. Jika Anda ingin menampilkan diagram tersebut di halaman web, cukup gunakan URL tersebut sebagai nilai dari atribut src=&#8221;" pada tag &lt;img /&gt; (tag HTML untuk gambar).</p>
<p>Saat ini terdapat lima jenis diagram yang dapat kita sajikan menggunakan Google Chart API, yaitu</p>
<p><strong>Line Chart</strong></p>
<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=lc&amp;chs=200x125&amp;chd=s:fooZaroo" alt="Line Chart" height="125" width="200" />     <img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=lxy&amp;chs=200x125&amp;chd=t:0,30,60,70,90,95,100|20,30,40,50,60,70,80|10,30,40,45,52|100,90,40,20,10|-1|5,33,50,55,7&amp;chco=3072F3,ff0000,00aaaa&amp;chls=2,4,1&amp;chm=s,FF0000,0,-1,5|s,0000ff,1,-1,5|s,00aa00,2,-1,5" height="125" width="200" /></p>
<p><strong>Bar Chart</strong></p>
<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=bvg&amp;chs=200x125&amp;chd=s:hello,world&amp;chco=cc0000,00aa00" height="125" width="200" />     <img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=bhg&amp;chs=200x125&amp;chd=s:el,or&amp;chco=cc0000,00aa00" height="125" width="200" /></p>
<p><strong>Pie Chart</strong></p>
<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=p&amp;chd=s:world5&amp;chs=200x125&amp;chl=A|B|C|D|E|F" height="125" width="200" />     <img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=p3&amp;chd=s:Uf9a&amp;chs=200x100&amp;chl=A|B|C|D" height="100" width="200" /></p>
<p><strong>Venn Diagram</strong></p>
<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=v&amp;chs=200x100&amp;chd=t:100,80,60,30,30,30,10" height="100" width="200" /><br />
<strong>Scatter Plot</strong></p>
<p><img src="http://chart.apis.google.com/chart?cht=s&amp;chd=s:984sttvuvkQIBLKNCAIi,DEJPgq0uov17zwopQODS,AFLPTXaflptx159gsDrn&amp;chxt=x,y&amp;chxl=0:|0|2|3|4|5|6|7|8|9|10|1:|0|25|50|75|100&amp;chs=200x125" height="125" width="200" /></p>
<p>Dengan menggabungkannya dengan server side scripting semisal PHP, kita bisa menggenerasi URL untuk data-data yang dinamis, yang selalu berubah-ubah sepanjang waktu dan menampilkannya dalam bentuk diagram. Jadi, diagramnya juga akan selalu dinamis, berubah-ubah mengikuti perubahan data tersebut.</p>
<p>Contoh penerapan yang menarik yang biasa dibutuhkan dalam blog:</p>
<ul>
<li>Menampilkan statistik pengunjung per hari ataupun bulan menggunakan <em>line chart</em> atau <em>bar chart</em>. Sebagian data statistik tersebut seperti jenis perambah yang digunakan, dapat disajikan dalam bentuk perbandingan mmenggunakan <em>pie chart</em></li>
<li>Menampilkan hasil <em>polling online</em> menggunakan <em>pie chart</em></li>
<li>Hmm.. apa lagi ya? kok lagi gak ada ide begini. Ada yang bisa menambahkan? Atau silakan langsung saja buat plugin WordPress yang mendayagunakan Google Chart API ini.</li>
</ul>
<p>Untuk tujuan lainnya selain blog, kegunaannya tentu sangat banyak. Silakan bayangkan sendiri penerapannya dalam berbagai jenis aplikasi web yang dapat Anda buat. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Sayangnya, setiap pengguna hanya diperbolehkan melakukan 50.000 kueri per harinya. Jika batas kueri tersebut terlampaui, Anda akan tidak bisa mengaksesnya untuk sementara waktu. Jika Anda terus melampaui batas kueri ini, akses Anda ke Google Chart API dapat diblokir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/27/menyajikan-data-menggunakan-diagram-secara-dinamis-dan-mudah-google-chart-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitur WordPress 2.4 untuk Para Pecinta Fotografi</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/21/fitur-wordpress-24-untuk-para-pecinta-fotografi/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/21/fitur-wordpress-24-untuk-para-pecinta-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 15:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/21/fitur-wordpress-24-untuk-para-pecinta-fotografi/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya mencoba-coba mengintip janin WordPress 2.4 kini sudah dalam trimester ke 3. Umur-umur segini memang tepat waktunya untuk menyinkronkan berkas pelokalan Bahasa Indonesia, supaya nanti proses persalinannya bisa berlangsung normal (rilis versi Bahasa Indonesianya tidak terlambat). Jadi langsung saja &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/21/fitur-wordpress-24-untuk-para-pecinta-fotografi/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin saya mencoba-coba mengintip janin WordPress 2.4 kini sudah dalam trimester ke 3. Umur-umur segini memang tepat waktunya untuk menyinkronkan berkas pelokalan Bahasa Indonesia, supaya nanti proses persalinannya bisa berlangsung normal (rilis versi Bahasa Indonesianya tidak terlambat). <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Jadi langsung saja saya perbarui salinan kerja SVN WordPress ke  HEAD nya, saat itu revisi 6342. Setelah skrip shell untuk menggenerasi berkas templat (wordpress.pot) saya eksekusi, saya gunakan berkas yang dihasilkan untuk untuk memperbarui berkas pelokalan Bahasa Indonesia yang terakhir (2.3.1). Ketika membukanya di <a href="http://poedit.net">poEdit</a>, saya terkejut melihat <em>string</em>-<em>string</em> barunya, terutama adanya kata-kata ini: Aperture, Focal Length, ISO dan Shutter Speed. Hah.. Serius?</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2007/12/screenshot_wp24_01.png" alt="String-string dalam WordPress 2.4" /></p>
<p><span id="more-94"></span><br />
Nampaknya WordPress mulai berniat memanjakan para blogger yang doyan fotografi, terutama yang sering melakukan photologging dengan WordPress. Salah satu fitur WordPress yang akan disuguhkan di versi 2.4 nanti ialah penyimpanan data EXIF foto kita ke dalam basis data. Data EXIF ialah metadata yang ditorehkan oleh kamera yang kita gunakan. Isinya macam-macam, di antaranya jenis kamera yang digunakan, ukuran gambar, serta informasi tentang pengaturan yang dilakukan terhadap kamera pada saat gambar tersebut diambil, misalnya seperti <em>aperture</em>, <em>focal length</em>, ISO, <em>shutter speed</em>&#8211;yang saya sebutkan tadi.</p>
<p>Informasi-informasi gambar tersebut ditampilkan pada halaman Admin » Manage » Uploads. Jika dalam versi Bahasa Indonesia Admin » Kelola » Unggahan.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/2007/12/screenshot_wp24_02.png" alt="Panel Pengelolaan Gambar Unggahan WordPress 2.4" /></p>
<p>Ketika proses pengunggahan dilakukan, WordPress 2.4 akan membaca data EXIF foto yang kita unggah dan memasukkannya ke dalam basis data, tepatnya dalam tabel ~postmeta. Dalam PHP terdapat fungsi-fungsi untuk membaca data EXIF sebuah berkas. Jadi sebenarnya kapanpun kita bisa mengekstraksi data EXIF langsung dari berkas foto yang kita unggah. Namun menyimpannya terlebih dahulu ke basis data memang merupakan langkah yang bijak ketimbang terus-menerus melakukan pembacaan data dari berkas.</p>
<p>Dengan sedikit <em>tweak</em>, kita bisa menampilkan informasi-informasi di atas langsung ke halaman blog. Misalnya, ditampilkan sebagai keterangan di bawah foto yang kita suguhkan di blog. Informasi ini akan sangat berguna bagi mereka-mereka yang sedang belajar, masih <em>trial &#038; error</em> dalam mengatur tingkat <em>exposure</em> gambar yang mereka ambil, karena bisa membandingkan hasil visualnya dengan berbagai pengaturan kamera.</p>
<p>*wehehehe&#8230; kayak aku bukan bagian dari mereka aja.. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' />*</p>
<p>Kalau saya sih selama ini lebih suka mengunggah gambar ke galeri foto seperti <a href="http://flickr.com">Flickr</a> dan membuat taut gambarnya di blog. Selain dengan maksud irit ruang server, di Flickr fitur-fiturnya sudah lengkap, termasuk penyajian metadata EXIF tadi.</p>
<p>Berbicara tentang penerjemahan, biasanya di Indonesia istilah-istilah dalam fotografi tersebut di atas disebutkan apa adanya dalam Bahasa Inggris. Ada yang bisa membantu saya menentukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia?</p>
<p class="quote">Aperture: Lobang? Celah? Shutter Speed: Kecepatan Penutup? Tolong dong. Adakah kata yang lebih &#8216;maknyus&#8217; didengar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/21/fitur-wordpress-24-untuk-para-pecinta-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Medicine 2.0</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 15:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[medicine 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/</guid>
		<description><![CDATA[Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya. Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya.</p>
<p>Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak ada batas tegas kapan web ber-revolusi menjadi versi 2.0. Sebagian orang yang pragmatis pun beranggapan ini cuma jargon untuk kepentingan komersiil belaka.</p>
<p>Dalam segi pengertianpun, berbagai sumber menyebutnya dengan cara berbeda. Namun yang dapat tangkap dan simpulkan, di web 2.0 terdapat perbedaan dalam hal:</p>
<ol>
<li>Konten web tidak lagi didominasi oleh <em>provider-provider</em> besar yang bergerak di bidang informasi, melainkan bergeser ke arah pengguna, dengan menjamurnya blog, <em>social networking</em>, <em>wiki</em>, video, <em>podcasting</em> dan layanan-layanan lain yang memperbolehkan pengguna mewarnai jagad maya ini</li>
<li>Lebih dinamis. Semua informasi di web selalu bergulir. Jika suatu situs statis, maka ia akan tenggelam di tengah arus informasi situs-situs lainnya</li>
<li>Teknologi-teknologi baru seperti AJAX, sindikasi, dsb</li>
</ol>
<p>Karena sudah begitu berbedanya web zaman dulu dengan zaman sekarang, maka dikatakan web telah berganti generasi.</p>
<p><strong>Apa hubungannya web 2.0 dengan medicine 2.0?</strong></p>
<p><span id="more-93"></span>Yak, benar sekali tebakan Anda. Secara kasar, <em>Medicine 2.0</em> ini merupakan perkawinan silang antara bidang kedokteran dengan web 2.0. Selain <em>medicine 2.0</em>, terdapat juga istilah <em>health 2.0</em>. Jika <em>health 2.0</em> menitikberatkan kegunaannya kepada konsumen (pengguna jasa kesehatan), <em>medicine 2.0</em> berbicara tentang bagaimana para penyedia jasa kesehatan, utamanya para praktisi medis, mencari informasi tentang kedokteran dan berbagi informasi tersebut kepada sesama (teman sejawat) menggunakan web 2.0 sebagai <em>platform</em>nya.</p>
<p><strong>Dunia Kedokteran Latah?</strong></p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, munculnya istilah <em>health 2.0</em> dan <em>medicine 2.0</em> tak terlepas dari euphoria era web 2.0. Bagaimanapun kita melihatnya, terasa <em>kegatelan</em> mereka&#8211;para &#8216;pioneer&#8217; istilah ini untuk mengadaptasikan istilah &#8216;versi 2.0&#8242; yang &#8216;terdengar keren&#8217; ini ke bidang lain. Sejauh penelusuran saya, sepertinya istilah medicine 2.0 pertama kali digunakan <a href="http://nature.com">Nature</a>. Setelah itu secara sporadis mulai digunakan di sana-sini, terutama oleh para dokter/mahasiswa/praktisi IT yang sering ngeblog. Dari sekian banyak pihak yang memopulerkan istilah <em>medicine 2.0 </em>ini, bisa dibilang <a href="http://scienceroll.com">Bertalan Mesko</a>-lah&#8211;seorang mahasiswa kedokteran tingkat lima di Herbeden University, Hungaria&#8211;yang paling berperan besar. Ia bahkan membuat <a href="http://medicine20.wordpress.com/">blog carnival bertemakan <em>medicine 2.0</em></a> dan <a href="http://scienceroll.com/medicine-20/">sebuah halaman khusus dalam blognya</a> didedikasikan untuk merangkum semua hal tentang medicine 2.0.</p>
<p>Kalau bicara tentang &#8216;kelatahan&#8217; ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di bidang kedokteran/kesehatan. Sewaktu nongkrong dan ngobrol dengan mas <a href="http://budiputra.com">Budi Putra</a> di cafe Watoo malam minggu kemarin, saya pun baru tahu kalau ternyata di bidang lain juga terjadi tren pengadaptasian istilah ala 2.0 (baca: two point o) laiknya <em>medicine 2.0</em>. Salah satunya ialah <em>democracy 2.0</em>. Bayangkan suara-suara dan aspirasi rakyat semua disalurkan melalui dunia maya dan berproliferasi secara cepat berkat <em>web.20</em>.</p>
<p>Kalau dilihat sekilas, tren istilah 2.0 ini sepertinya agak salah kaprah ya? Namun menurut saya, tidak apa-apa. Apapun istilahnya, jelas terlihat bahwa generasi baru web saat ini menimbulkan sebuah tantangan bagi profesi kedokteran untuk turut mengambil manfaat darinya.</p>
<p><strong>CONTOH PENERAPAN MEDICINE 2.0</strong></p>
<p><strong>Forum, Social Networking</strong></p>
<p>Forum yang anggotanya terdiri dari para dokter dan mahasiswa kedokteran di Indonesia sebenarnya sudah ada di <a href="http://dokter.or.id">http://dokter.or.id</a>. Selain itu ada juga milis-milis kedokteran yang trafficnya lumayan ramai. Di tingkat internasional terdapat social networking untuk komunitas dokter, satu yang paling terkenal ialah <a href="http://www.socialmd.com/">SocialMD</a>.</p>
<p><strong>Wiki Kedokteran</strong></p>
<p>Maaf kalau saya salah, tapi berdasarkan penelusuran saya, di Indonesia belum ada wiki khusus (selain WikiPedia) yang berisi materi-materi kedokteran yang disusun dari oleh dan untuk dokter. Namun di tingkat internasional ada beberapa. Lihat <a href="http://scienceroll.com/2007/03/27/medical-wikis-the-future-of-medicine/">senarai yang dibuat oleh Bertalan di blognya</a>.</p>
<p><strong>Medical Blogosphere/Blogosfer Kedokteran</strong></p>
<p>Blog menjadi fenomena saat ini. Di sini tempat yang paling leluasa bagi seseorang untuk membagikan informasi tentang sesuatu. Dengan mempunyai sebuah media di tengah-tengah blogosphere, seseorang dapat dengan mudah menyiarkan sesuatu kepada khalayak ramai hanya dengan menekan tombol &#8216;publish&#8217;.</p>
<p>Jika sejumlah dokter memiliki blog yang saling terhubung (melalui suatu taut fisik, ataupun melalui agregasi sindikasi), hubungan antar blog dokter tersebut seolah-olah menjadi <em>dunia</em> tersendiri, yang biasa disebut <em>medical blogosphere</em>.</p>
<p>Banyak yang bisa dilakukan dengan blog, misalnya:</p>
<ol>
<li>Memublikasikan artikel-artikel ilmiah yang ditulis sendiri. <a href="http://www.sciencebase.com/science-blog/fourteen-dos-and-donts-for-medical-bloggers.html">Artikel menarik berikut</a> memberi saran bagi para <em>medical bloggers</em> berkaitan dengan ini.</li>
<li>Menulis<em> case record</em> pribadi, dan membahas kasus-kasus yang unik yang pernah dijumpai. Memang untuk melakukan ini <a href="http://casesblog.blogspot.com/2005/07/case-reports-and-hipaa-rules.html">perlu berhati-hati mengenai rahasia profesi</a>.</li>
<li>Mengulas <em>event-event</em> kedokteran</li>
<li>Membahas fenomena yang terjadi dalam lingkup birokrasi kesehatan? *lirik <a href="http://cakmoki86.wordpress.com">cak moki</a>*</li>
<li>Penerapan <em>vlogging</em>, <em>photologging</em>, atau <em>podcasting</em> juga bisa diaplikasikan untuk menyajikan data-data pendukung, misal: hasil pemeriksaan radiologi, rekaman suara jantung, foto lesi, foto Patologi Anatomi, dsb.</li>
</ol>
<p>Fitur komentar dalam blog sangat berguna untuk menciptakan suatu diskusi tentang tulisan yang dibuat. Diskusi di sini tidak hanya terbatas dilakukan oleh konsumen kesehatan, namun juga bisa dilakukan oleh praktisi medis lain (teman sejawat).</p>
<p><strong>Publikasi Ilmiah yang Digerakkan Web 2.0</strong></p>
<p class="quote"><em>Internet itu bagaikan sebuah keranjang sampah raksasa. Semua orang bisa saja dengan mudah mengisinya</em>.</p>
<p>Saya masih ingat kalimat yang dilontarkan oleh guru saya, seorang profesor di Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Undip. Memang, tidak bisa dipungkiri kalimat itu ada benarnya juga. Pentingnya keakuratan informasi dalam dunia kedokteran membuat para dokter harus berhati-hati dalam menentukan sumber informasi. Sebagus apapun artikel Wikipedia yang kita temukan tidak dapat menjadi landasan kuat dalam artikel ilmiah, apalagi untuk dijadikan alasan pengambilan keputusan medis.</p>
<p>Namun kini sudah bermunculan situs-situs <em>peer-reviewed </em>journal. Salah satunya ialah <a href="http://www.openmedicine.ca/">OpenMedicine</a>. Artikel-artikel kedokteran di sini ditulis oleh para dokter dan <em>direview</em> oleh para sejawat.</p>
<p>Memang, bukan semua yang ada di atas merupakan hal baru, namun sepertinya semangat para dokter belum begitu terasa. Munculnya jargon-jargon seperti <em>medicine 2.0</em> merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan semangat tersebut. Saatnya para dokter juga bangkit dan memanfaatkan secara maksimal potensi kekuatan <em>web 2.0</em> ini.</p>
<p><strong>Tantangan untuk Para Dokter</strong></p>
<ol>
<li>Dokter tidak hanya lagi dituntut untuk dapat menggunakan dunia maya dalam mencari informasi, namun juga harus menjadi agen penyebar informasi. Kemampuan dan minat untuk menulis tentunya sangat dibutuhkan, agar semakin banyak materi-materi kedokteran berkualitas yang dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya.</li>
<li>Dokter harus lebih dapat menerima dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Dalam mencari informasi, para dokter harus membiasakan diri menggunakan <em>feed aggregator</em>, untuk memantau terus sindikasi dari situs-situs jurnal ataupun tulisan-tulisan sejawatnya. Dalam menyiarkan informasi, tentunya para dokter juga harus familiar dengan perkakas-perkakas pendukungnya, misalnya cara menerbitkan tulisan di blog, sintaks-sintaks wiki, bagaimana cara <em>podcasting, vlogging</em>, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p><strong>Masalah yang saat ini dihadapi</strong></p>
<ol>
<li>Kesibukan</li>
<li>Keengganan</li>
</ol>
<p>Para dokter tentunya kaum yang terpelajar. Jadi sebenarnya masalahnya cuma dua itu saja <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' />.</p>
<p>Untuk mengerti lebih jauh mengenai <em>medicine 2.0</em>, saya sarankan memulai dari halaman yang dibuat oleh Bertalan yang saya sampaikan di atas. dr. <a href="http://daniweblog.blogspot.com">Dani Iswara</a> juga punya <a href="http://daniweblog.blogspot.com/2007/12/mengingat-medicine-20.html">sekumpulan daftar bacaan</a> yang perlu dibaca.</p>
<p class="quote">Banyak yang mengakui bahwa arus informasi kedokteran saat ini sangat deras, namun sebenarnya tidak banyak yang menyadari betapa lebih derasnya jika keran web 2.0 ini benar-benar dibuka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/19/medicine-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google untuk Membantu Tegakkan Diagnosis</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/05/google-untuk-membantu-tegakkan-diagnosis/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/05/google-untuk-membantu-tegakkan-diagnosis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 13:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/05/google-untuk-membantu-tegakkan-diagnosis/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bukan rahasia lagi kalau dokter juga menggunakan internet untuk mencari-cari informasi guna membantu menegakkan diagnosa pada kasus-kasus yang sulit. Ada yang meneliti keakuratan hasil diagnosa yang mengandalkan mesin pencari Google pada kasus-kasus yang dipresentasikan dalam NEJM. Mereka membandingkan hasil &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/05/google-untuk-membantu-tegakkan-diagnosis/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bukan rahasia lagi kalau dokter juga menggunakan internet untuk mencari-cari informasi guna membantu menegakkan diagnosa pada kasus-kasus yang sulit. Ada yang meneliti keakuratan hasil diagnosa yang mengandalkan mesin pencari <a href="http://google.com" title="Google">Google</a> pada kasus-kasus yang dipresentasikan dalam <a href="http://nejm.org" title="New England Journal of Medicine">NEJM</a>. Mereka membandingkan hasil diagnosa yang diambil berdasarkan penelusuran di mesin pencari tersebut dengan diagnosa akhir yang ditegakkan oleh sang penulis. Hasilnya cukup menarik dan dipublikasikan di <a href="http://www.bmj.com/cgi/content/full/333/7579/1143" title="British Medical Journal">BMJ</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/05/google-untuk-membantu-tegakkan-diagnosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mainan Coronary Bypass</title>
		<link>http://hudatoriq.web.id/2007/12/03/mainan-coronary-bypass/</link>
		<comments>http://hudatoriq.web.id/2007/12/03/mainan-coronary-bypass/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 10:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>huda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hudatoriq.web.id/2007/12/03/mainan-coronary-bypass/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah game Flash yang cukup menarik di mana kita bisa berperan sebagai dokter bedah dalam sebuah simulasi open heart surgery, lebih spesifiknya bypass arteri coronaria. Lumayan buat sekedar iseng-iseng di internet. Skenarionya, kamu harus melakukan bypass arteri coronaria dengan &#8230; <a href="http://hudatoriq.web.id/2007/12/03/mainan-coronary-bypass/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/coronary_bypass_flash_01.jpg" /></p>
<p>Ada sebuah <a href="http://www.abc.net.au/science/lcs/heart.htm">game Flash</a> yang cukup menarik di mana kita bisa berperan sebagai dokter bedah dalam sebuah simulasi <em>open heart surgery</em>, lebih spesifiknya bypass <em>arteri coronaria</em>. Lumayan buat sekedar iseng-iseng di internet.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/coronary_bypass_flash_02.jpg" /></p>
<p>Skenarionya, kamu harus melakukan bypass arteri coronaria dengan menggunakan <em>autograft vena saphena</em> dari tungkai kanan pasien. Awas, jangan keliru mengambil <em>arteri femoralis</em>.. <img src='http://www.keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> . Setelah itu, ikuti saja perintah-perintahnya. Gampang kok. Tapi hati-hati, kalau teledor dan operasinya gagal, kamu harus mencari pengacara!</p>
<p><span id="more-90"></span></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://hudatoriq.web.id/files/coronary_bypass_flash_03.jpg" /></p>
<p>Ada tiga tingkat kesulitan yang bisa kamu pilih: <em>intern</em>, <em>surgeon</em>, <em>specialist</em>. Di spesialis, tidak akan ada garis khayal panduan pada gambar tindakan.</p>
<p>Ada game-game lain yang patut untuk dicoba untuk kalau kamu tidak ada kerjaan. Si <a href="http://scienceroll.com">Bertalan Mesko</a>, mahasiswa kedokteran dari Hungaria yang juga admin wikipedia untuk bagian kedokteran, suka banget ngumpulin <a href="http://scienceroll.com/2007/11/29/virtual-hip-replacement-be-a-surgeon/">yang beginian</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hudatoriq.web.id/2007/12/03/mainan-coronary-bypass/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

