Kira-kira seminggu yang lalu akhirnya ponsel Sony Ericsson saya bisa saya ambil dari service centre (setelah penantian berbulan-bulan). Ternyata ponsel saya benar-benar diganti. Jadi kinclong lagi deh. 
Data-data tentu saja hilang semua. Dokumen, musik dan foto aman karena di memory stick. Namun bagaimana dengan buku telepon yang disimpan di memori internal ponsel? Untungnya saya selalu mencadangkan buku telepon, jadi gak perlu repot-repot mencari dan mencatat ulang dari teman-teman.
Lanjutkan membaca ‘Mencadangkan, Menyinkronkan dan Berbagi Data Buku Telepon’
Bagaimana cara penulisan plugin WordPress yang baik? Bagaimana cara yang benar dalam menerapkan Object-Oriented Programming dalam plugin WordPress? Blog berikut cukup bisa dijadikan sumber bacaan: http://funcdoc.wordpress.com
Di milis wp-hackers juga sedang terjadi usaha untuk merubah plugin Hello Dolly ke bentuk yang lebih modern dengan pendekatan OOP.
Ingin menyajikan data-data dengan diagram secara dinamis di halaman web? Dulu mungkin kita harus berkutat dengan fungsi-fungsi PHP untuk menggenerasi gambar. Itupun, server kita harus mendukung pustaka GD. Menggunakan Flash mempermudah pembuatan diagram yang indah. Namun tidak semua browser mendukung Flash dan memang itulah yang menyebabkan Flash masih dihindari oleh sebagian desainer web. Namun saat ini membuat diagram sangatlah mudah dengan adanya Google Chart API.
Mendengar kata API, sebagian orang mungkin akan takut duluan, berpikir bahwa perlu waktu dan energi khusus untuk mempelajari tata cara penggunaan API tersebut. Jangan salah. API dari Google Chart hanya berupa aturan penulisan URL untuk menampilkan gambar diagram yang kita inginkan. Dalam URL tersebut kita sisipkan informasi-informasi diagram seperti apa yang ingin kita sajikan, berikut datanya-datanya.
Lanjutkan membaca ‘Menyajikan Data Menggunakan Diagram secara Dinamis dan Mudah–Google Chart API’
Kemarin saya mencoba-coba mengintip janin WordPress 2.4 kini sudah dalam trimester ke 3. Umur-umur segini memang tepat waktunya untuk menyinkronkan berkas pelokalan Bahasa Indonesia, supaya nanti proses persalinannya bisa berlangsung normal (rilis versi Bahasa Indonesianya tidak terlambat). 
Jadi langsung saja saya perbarui salinan kerja SVN WordPress ke HEAD nya, saat itu revisi 6342. Setelah skrip shell untuk menggenerasi berkas templat (wordpress.pot) saya eksekusi, saya gunakan berkas yang dihasilkan untuk untuk memperbarui berkas pelokalan Bahasa Indonesia yang terakhir (2.3.1). Ketika membukanya di poEdit, saya terkejut melihat string-string barunya, terutama adanya kata-kata ini: Aperture, Focal Length, ISO dan Shutter Speed. Hah.. Serius?

Lanjutkan membaca ‘Fitur WordPress 2.4 untuk Para Pecinta Fotografi’
Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya.
Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak ada batas tegas kapan web ber-revolusi menjadi versi 2.0. Sebagian orang yang pragmatis pun beranggapan ini cuma jargon untuk kepentingan komersiil belaka.
Dalam segi pengertianpun, berbagai sumber menyebutnya dengan cara berbeda. Namun yang dapat tangkap dan simpulkan, di web 2.0 terdapat perbedaan dalam hal:
- Konten web tidak lagi didominasi oleh provider-provider besar yang bergerak di bidang informasi, melainkan bergeser ke arah pengguna, dengan menjamurnya blog, social networking, wiki, video, podcasting dan layanan-layanan lain yang memperbolehkan pengguna mewarnai jagad maya ini
- Lebih dinamis. Semua informasi di web selalu bergulir. Jika suatu situs statis, maka ia akan tenggelam di tengah arus informasi situs-situs lainnya
- Teknologi-teknologi baru seperti AJAX, sindikasi, dsb
Karena sudah begitu berbedanya web zaman dulu dengan zaman sekarang, maka dikatakan web telah berganti generasi.
Apa hubungannya web 2.0 dengan medicine 2.0?
Lanjutkan membaca ‘Medicine 2.0′
Aksara Nusantara
Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, masing-masing memiliki aturan penulisan sendiri menggunakan aksara tradisionalnya yang khas. Apresiasi terhadap berbagai aksara tradisional ini masih tampak misalnya dari mata pelajaran bahasa daerah di tiap daerah. Penggunaan aksara-aksara tradisional ini di berbagai sudut kota juga merupakan bukti bahwa, walaupun aksara ini telah hampir sepenuhnya tergantikan oleh aksara latin, sebenarnya bangsa kita masih cinta dan bangga atas kekayaan negeri kita yang satu ini. Sebagai contoh, penggunaan aksara Jawa pada papan nama jalan di berbagai penjuru kota Surakarta dan Yogyakarta. Atau penerapan yang sama pada aksara Arab Melayu di kota Pekanbaru
belakangan ini.Berbicara tentang aksara tradisional, awal tahun 2008 ini diwarnai dengan dimulainya sebuah proyek sumber terbuka yang diberi nama Aksara Nusantara. Proyek yang dikomando oleh Pak Mohammad DAMT ini bertujuan membuat sistem yang baku untuk menciptakan, menyunting dan menampilkan dokumen elektronik berbahasa daerah di Indonesia menggunakan aksara tradisional masing-masing. Sistem penulisan dan penampilan dokumen akan mengikuti standar Unicode sehingga diterima secara universal di seluruh dunia.
Lanjutkan membaca ‘Aksara Nusantara’