Beberapa hari yang lalu aku baru baca novel ini, The Harsh Cry of the Heron yang artinya Jeritan Pilu Sang Bangau-kelanjutan dari seri “Tales of The Otori” yang sebelumnya merupakan sebuah trilogi. Walaupun kabar tentang buku ini sudah aku dengar bahkan sebelum buku ini dirilis, dan versi Bahasa Indonesianya pun sudah keluar sejak dulu sekali, tapi baru kemarin ini dapat pinjeman dari temenku dan sempat membaca
.
Di sini sekali lagi Lian Hearn membuktikan kepiawaiannya memadukan kisah cinta, konflik kekuasaan, serta peperangan yang diberi latar kebudayaan Jepang di zaman feodal. Lewat buku sebelumnya, Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of the Moon, ia telah mengantarkan Otori Takeo, tokoh utama dalam seri ini untuk mempersatukan Tiga Negara. Di buku ini, kisah dimulai pada enam belas tahun setelah keberhasilannya tersebut.
Dikisahkan bahwa Otori Takeo beserta isterinya, Kaede, telah membawa Tiga Negara menuju kedamaian dan kesejahteraan. Mereka dikaruniai tiga orang puteri, di mana dua yang terakhir merupakan kembar. Sebagai bangsawan, tentu saja ketiadaan seorang putera di tengah-tengah mereka menimbulkan kecemasan dalam diri Kaede. Namun tidak demikian dengan Takeo, karena sewaktu ia berusaha merebut Tiga Negara ia mendapat ramalan yang menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membunuhnya, kecuali puteranya sendiri-ramalan yang bahkan isterinya sendiripun tidak tahu.
Di tengah-tengah pemerintahannya yang damai, ia menemukan tanda-tanda ketidaksetiaan dari adik iparnya, Arai Zenko yang masih menaruh dendam pada Takeo karena ayahnya terbunuh dalam usaha Takeo merebut kota Hagi. Lebih buruknya lagi, Arai Zenko ternyata diam-diam mencari dukungan dari kaisar untuk diakui sebagai pewaris resmi Tiga Negara.
Di sisi lain, perseteruannya dengan keluarga Kikuta-salah satu keluarga dalam suku Tribe yang dikaruniai kekuatan-kekuatan istimewa bagai sihir, di mana Takeo merupakan salah satu keturunannya-menambah daftar masalah yang dapat mengancam kedamaian Tiga Negara. Bahkan penyerangan beberapa orang Kikuta pada perayaan tahun baru menjadi konflik pembuka di buku ini.
Di buku sebelumnya juga diceritakan bahwa Takeo memiliki putera hasil hubungan gelapnya dengan Yuki yang juga anggota Tribe. Setelah Ibunya dibunuh, anak ini oleh Akio, ketua Kikuta, diklaim sebagai puteranya dan diberi nama Hisao. Anak ini dimanfaatkan oleh Akio untuk merencanakan pembunuhan terhadap Takeo, ayah kandungnya sendiri yang bahkan tidak diketahui oleh Hisao.
Masalah-masalah ini yang kemudian berkembang menjadi beberapa kisah pertarungan, pembunuhan sampai perang dengan pasukan jenderal kaisar, perang terbesar yang pernah dilalui Takeo.
Sejak buku pertamanya, seri novel ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Sang penulis agaknya benar-benar dengan seksama memasukkan kentalnya unsur-unsur kebudayaan untuk menghiasi jalan cerita. Misalnya, perbedaan status dan perbedaan gender berkali-kali menjadi titik tolak beragam masalah yang mewarnai konflik-konflik dalam cerita ini. Di samping itu paradigma masyarakat serta kaum bangsawan yang saat ini sudah tidak diterima lagi dengan gamblangnya dilukiskan sebagai sesuatu hal yang wajar di sini.
Cinta, kesetiaan, serta pengkhianatan berkali-kali memainkan emosi pembaca. Cara menghadirkan intrik-intrik di sepanjang cerita benar-benar membuat para pembaca merasakan suasana hati sang tokoh utama. Ini juga yang aku suka dari novel ini.
Unsur-unsur supranatural juga diwarisi dari buku-buku sebelumnya, terutama tentang kekuatan rahasia Tribe. Namun bagiku, sepertinya di buku keempat ini terlalu berlebihan dibanding buku-buku sebelumnya. Namun tidak mengurangi keasyikan menikmati jalan cerita.
Satu lagi kekurangan buku ini menurutku ialah ending yang terkesan terlalu terburu-buru. Irama cerita di akhir buku menjadi cepat dan tiba-tiba selesai. Di buku sebelumnya juga seperti ini, di mana tiba-tiba Takeo dikhianati oleh Arai kemudian Arai mati begitu saja akibat senjata api. Di sini akhir kisah Takeo diceritakan dalam surat Makoto yang ditujukan untuk Kaede. Mungkin karena akhirnya sebagian sudah bisa ditebak berdasarkan ramalan di buku sebelumnya.