Blog, Potensi Media Alternatif – Kesimpulan dari Acara e-Life Style Metro TV

Menjelang siang hari ini, setelah menonton MTV Pimp My Ride, tidak sengaja aku lihat iklan e-lifestyle untuk hari ini juga. Sekilas yang membuat aku menarik, yang akan dibahas dalam acara e-lifestyle hari itu ialah tema berjudul “Malaysia Diguncang Para Blogger”. Melihat cuplikannya, serta screenshot blog yang ditampilkan, langsung aku tahu kalau ini masalah tulisan blog Nila Tanzil, reporter SCTV yang membuat Menteri Pariwisata Malaysia marah. Kebetulan saya pernah membaca tentang ini dari Blog Tempointeraktif. Secara aku blogger juga, jadi tertarik untuk melihatnya.

Tapi ternyata topik episode e-lifestyle hari itu ialah “Blog – Potensi Media Alternatif” (tidak sama persis seperti yang diiklankan :d ). Salah narasumber yang diajak berbicara di situ ialah Budi Putra, Wimar Witoelar, dan Nukman Luthfie.

Kasus yang menjadi perhatian di sini (mungkin ada yang belum pernah membaca), berawal dari reporter SCTV yang diundang oleh Malaysian Tourism Board untuk meliput pembukaan Floral Festival 2007 di Malaysia. Namun setibanya di sana, mereka malah tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Alhasil, reporter tersebut menuliskan pengalaman mereka di blog pribadi mereka. Namun rupanya tulisan blog ini sampai mendapat perhatian Malaysian Tourism Board. Belakangan, Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor bahkan sampai mengatakan “bloggers are liar” tanggal 8 Maret 2007.

All bloggers are liars, they cheat people using all kinds of methods. From my understanding, out of 10,000 unemployed bloggers, 8,000 are women.

Yang saya simpulkan dari acara tersebut, blog memang fenomena yang cukup mengagumkan, yang membuka pintu bagi seluruh orang untuk mempublikasikan tulisan mereka ke seluruh dunia dengan begitu mudahnya. Namun para blogger masih menganggap bahwa blog merupakan wilayah pribadi mereka, padahal setelah mereka menekan tombol “Publish”, tulisan itu dapat dibaca oleh jutaan orang.

Media blog bahkan saat ini merupakan saingan media massa. Bahkan kerapkali informasi dari blog lebih mudah tertangkap oleh mesin-mesin pencari (misal: Google) ketimbang informasi dari media-media terpercaya. Bukan berarti informasi dari blog itu tidak dapat dipercaya, tetapi memang belum ada jaminan. Bagi orang-orang yang sudah betul-betul paham dengan internet pastinya sudah bisa untuk memilah-milah mana sumber yang dipercaya mana yang tidak. Namun bagi orang yang awam (dan di Indonesia banyak sekali), ia cenderung mengambilnya begitu saja.

Apalagi sekarang hampir tidak ada batasan antara blog dan situs resmi. Banyak pula perusahaan-perusahaan atau media yang mengusung format blog untuk situs resminya. Karena terbukti format blog mempunyai kekuatan tersendiri, terutama dalam segi interkonektivitas antar sesama blogger (mengutip pernyataan Pak Wimar Witoelar dalam acara tesebut).

Yang namanya blogger memang memiliki karaker khas masing-masing. Ada yang lebih suka menulis informasi-informasi yang berguna bagi orang lain, ada yang suka berbagi ilmu, ada yang lebih suka berbagi pengalaman. Nah, untuk yang terakhir ini biasanya memang menggunakan bahasa apa adanya dan terkadang tidak mengenakkan untuk pihak lain.

Kalau menurut saya sih, sah-sah saja menulis kritikan terhadap sesuatu atau seseorang di blog, asalkan itu berdasarkan dengan kenyataan dan fakta-fakta, tidak menipu dan memfitnah. Untuk tulisan yang diperbincangkan di acara e-LifeStyle ini, menurut saya tidak terkesan menghina kok. Mereka hanya menceritakan apa yang mereka alami saja di sana. Tapi sayang, ya, Nila Tanzil sampai disuspend oleh SCTV. Keep fighting deh mbak!

Ada yang saya tangkap di akhir acara ketika Pak Wimar Witoelar mengatakan

Kalau orang punya kekuasaan terhadap media, jangan kekuasaan tersebut digunakan untuk memblok pengkritik…

sepertinya kata-katanya terpotong (atau dipotong ya? :) ) bagi yang tahu ceritain dong.