Pagi itu kami Pengurus Harian BEM KU Undip dijadwalkan melakukan presentasi di Angkatan 2006 ruang C. Karena terbentur jadwal kuliah, tinggallah kami berempat – saya, Erlina, Adim dan Ria yang akan mempresentasikan kinerja kami selama masa kepengurusan di depan adik-adik. Akhirnya tugas pembawa acara diserahkan kepada saya.
Presentasi kami biasa saja, seputar perkembangan kampus dan apa saja yang telah kami capai. Yang menarik, ketika dibuka sesi tanya jawab, ternyata pertanyaan adik-adik 2006 saat itu seluruhnya menyangkut masalah kurikulum yang baru diterapkan kepada mereka. Menurut mereka, di kurikulum ini mereka dituntut untuk menguasai materi dalam waktu singkat. Saya bisa melihat hal itu dari draft KBK ketika diadakan lokakarya sebelum tahun ajaran ini dimulai. Namun di sisi lain, mereka pun dijejali dengan berbagai macam tugas yang jumlahnya tak terkira. Akhirnya, bukan belajar yang mereka lakukan, tapi mengejar deadline pengumpulan tugas. Bahkan untuk itu beberapa dari mereka terpaksa bolos untuk menyelesaikan tugas di rumah. Kalaupun tidak bolos, di kampus mereka mengerjakan tugas, bukan mendengarkan kuliah.
Uniknya lagi, pembagian angkatan 2006 menjadi dua kelas dengan blok berbeda membuat mereka kurang mengenali teman-teman seangkatannya sendiri! Jarang ada waktu bagi mereka untuk bercengkerama dengan rekan-rekannya di kelas yang satunya.
Sewaktu awal-awal masuk FK dulu, angkatan kami pun merasakan bagaimana rasanya menerima bermacam-macam tugas, terutama laporan praktikum. Tapi dibandingkan dengan nasib adik-adik 2006 sepertinya berbeda jauh. Saya jadi teringat ketika hendak sholat dzuhur di musholla di gedung dekanat, ada beberapa mahasiswi 2006, kalau tidak salah tiga orang, berkumpul di ujung musholla. Dua dari mereka tidur tergeletak tak berdaya ditemani diktat-diktat anatomi di sampingnya, sedangkan satu orang lagi sedang duduk membalik-balik Atlas Sobotta. Saya sepertinya merasa kasihan kepada mereka, tapi entah mengapa kala itu tidak saya sapa sedikitpun, takut mengganggu. Bahan kuliah anatomi yang saya dan teman-teman tempuh dalam satu semester kini harus mereka telan semua dalam satu bulan. Sama saja dengan SP dong!
Konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan Problem Based Learning sebagai metode pembelajaran para mahasiswanya memang sangat baik untuk diterapkan. Mahasiswa dituntut untuk learning how to learn, selain dalam waktu bersamaan juga menguasai materi. Namun yang saya takutkan, kurangnya pengalaman serta kurangnya fasilitas pendukung membuat disainer kurikulum yang diterapkan di FK Undip ini terlalu jauh melangkah. Semoga dalam waktu dekat jadi diseleggarakan semacam evaluasi penerapan kurikulum ini untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya serta kendala-kendala yang dihadapi.
nice blog…
but…/me ga ngerti apa yang huda tulis…
Yang gak ngerti di mananya? Arttikel ini atau seluruh blognya?
Setuju banget sama yang saya quote dibawah ini :