Pheew…

Pheew… hari yang melelahkan, walaupun sebenarnya tidak ada yang aku lakukan hari ini. Paling tidak melelahkan bagi pikiranku. Kuputuskan tuk segera pulang, mengumpulkan kemudian merangkai serpihan-serpihan kekuatan yang akan kukenakan keesokan harinya, meninggalkan canda tawa teman-temanku yang saat itu sedang bergembira atas hadiah besar yang mereka semua terima – sebuah ”titik panas” baru di kampus, kutiru satu istilah yang disebut oleh salah seorang dari mereka. Beberapa dari mereka berterimakasih padaku, mengucapkan kalimat pendorong semangat padaku, menyampaikan rasa bangganya terhadapku atas apa yang telah aku perjuangkan. Sebenarnya tidak ada yang aku perjuangkan. Dan kalau mereka semua melihatnya lebih dekat, semua hanya buah dari beberapa pertemuan dengan petinggi-petinggi fakultas, tanpa perbedaan pendapat, tanpa adu argumen.

Langsung saja ku kembali ke tempatku berlindung sepanjang musim. Kosong seperti biasa. Melantunkan kesunyian yang memekakkan telinga, meruntuhkan segala keteguhan hati prajurit yang baru berangkat pergi berperang. Meskipun begitu, inilah my home sweet home. Tempatku memanjakan diri, tempatku menempa diri, tempatku membuahkan ide-ide dari sebuah renungan, tempatku bermimpi, tempatku menghitung sisa umurku setiap pagi.

Entah apa yang aku cari waktu itu, akhirnya kuputuskan untuk memainkan sebuah RTS tentang Perang Dunia II yang saat ini sedang populer. Menghabisi setiap jerries, menghujaninya dengan machine gun yang terpasang di atas tank Sherman, membawa serta dengannya deru mesin berikut suara decit rodanya yang entah mengapa begitu menakutkan terdengarnya di telingaku. Anehnya suara ini kudapati mirip dengan suara mesin fotokopi langgananku di Jalan Bergota Kamar Mayat.

Ah, ini cuma selingan untuk pelepas ketegangan, pikirku. Biasanya semakin lama waktu yang kuhabiskan untuk bermain video game, semakin besar penyesalanku kemudian waktu. Menyesal karena waktu yang sangat berharga aku sia-siakan begitu saja. Sadar ini tidak ada gunanya, kusudahi saja tanpa menyelesaikan satu level pun, lalu beranjak pergi ke kamarku. Kutatap seisi ruangan, kemudian teringat akan sesuatu. Kuambil satu buku kumpulan puisi karya seorang penyair angkatan ‘45 yang sudah lama tidak kubaca. Hari itu ada satu pencetus yang membangkitkan kembali rasa ingin tahu serta motivasiku untuk membacanya. kubawa ke kamar adikku yang paling kecil, kurebahkan tubuhku yang semakin hari sepertinya semakin berbobot :), kemudian lembar demi lembar kujelajahi, bait demi bait kuselami, mencoba menambal pahamku akan maksud sang penyair yang begitu dalam dan seakan-akan terlindungi sebagian dari panca indera oleh keterbatasan akalku. Semuanya itu disampaikannya dengan kalimat yang begitu bersahaja, sulit tuk menandinginya.

Tidak sadar mendung menjelang karena terlindungi oleh atap serta dinding kamar, aku hanya mendengar gemuruh petir serta suara crescendo rintik yang semakin lama semakin konfluen membentuk desis hujan. Serasa malaikat beramai-ramai mengucapkan kata ssh! dengan maksud agar seluruh manusia diam dan menghentikan segala amalnya saat itu, ataukah mereka bernyanyi untuk menemani makhluk-makhluk yang sedang menyendiri sepertiku, menghantarkan kami menuju alam mimpi nan jauh di sana? Ah… keadaan ini memang merayuku untuk terlelap.

Tapi aku tetap terjaga sore itu. Walau mata tetap memandangi buku itu, sesekali pikiranku menerawang. Terbang melintasi waktu kembali ke kampusku, keceriaan yang aku tinggalkan. Aku membayangkan jika saja waktu itu aku tidak bergegas pulang, pastinya kan terlihat olehku kelam yang menyeka cerahnya mega, dimeriahkan dengan kilat yang meretas kegelapan awan hitam. Dan jika aku sedang di perjalanan pulang, aku akan mempercepat langkah motorku. Berlomba-lomba dengan awan yang dikemudikan angin, pembalap tak terkalahkan di muka bumi. Jika aku kalah, basah kan guyuri kelambiku. Dingin hujan yang berpadu dengan terpaan drag wind menusuk daging hingga ke tulang. Tidak lama kemudian kadar histamin dalam darahku yang meningkat menyebabkan timbulnya urtikaria di lengan, bagian tubuhku yang paling terpapar dinginnya hujan. Jariku serasa menebal, berusaha lebih keras untuk tetap mencengkram stang motor yang licin, yang seperti merasa enggan dan menolak untuk digenggam.

Tapi di sini aku, yang berselimutkan hangatnya udara kamar tak perlu melalui itu semua. Paling tidak, tidak untuk hari ini. Karena hujan sepertinya mulai merongrong setiap hari akhir-akhir ini. Pertama-tama pukul sembilan malam ke atas, besoknya pukul delapan, maghrib, dan sekarang sore hari, kejar-mengejar dengan sang hari. Entah kapan aku dapat tertangkap olehnya.

Aku jadi teringat cerita temanku tentang hujan (untuk Amel, iya betul.. kamu yang aku maksud). Memang benar katanya, waktu hujan lebih nikmat untuk dilalui dalam kesendirian. Menikmati suaranya bagai menikmati orkestra klasik, duduk di dalam rumah sambil meneguk secangkir kopi panas, memandangi pemandangan di luar rumah melalui tetes-tetes air yang berkumpul dan memanjat turun di balik kaca jendela. Terbayang olehku suasana cozzy di cafe dalam iklan Djarum Black Capuccino, atau suasana salah satu adegan di film kartun ketika ku masih SD (tidak perlu aku sebutkan film apa) – film yang entah kenapa suasananya itu masih menimbulkan impresi di ingatanku.

Begitupun aku di sini, ditemani sebuah kumpulan kebijakan hati manusia. Ia membuka sangkar pikiranku, membuatnya terbebas lepas. Kemudian hujan perlahan-lahan mendinginkannya. Sungguh nikmat sekali. Dan di tetes-tetes terakhir, hilanglah sudah segala kepenatanku. Serasa energi kembali mengalir dalam dari dadaku, terus menjalar ke arah cranial serta extremitas atas tubuh.

Terimakasih hujan untuk dorongan semangat yang kau berikan….

Dan di malam hari, ia kembali….

2 Tanggapan terhadap “Pheew…”


  1. Ikon Gravatar 1 pi

    hoho..sepertinya hari yang berattt yah..
    bapak yang satu ini memang..ck ck ck..salut deh! :D

  2. Ikon Gravatar 2 huda

    gak berat, sih, cuma lagi penat…
    Semoga cepet sembuh infeksi Varicella zooster nya… n cepet ilang juga bekas2nya.. :)

Tinggalkan Sebuah Balasan